Home / Uncategorized / Tuhan Izinkan Aku Melihat Pelacur!

Tuhan Izinkan Aku Melihat Pelacur!

Selintas judul di atas seperti judul buku dari Muhidin M. Dahlan yang berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah yang terbit tahun 2003. Beruntungnya, saya baru bisa beli buku itu tahun 2016 dan menamatkannya beberapa hari lalu.

Saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman liputan eks lokalisasi di Kabupaten Malang beberapa waktu lalu. Siang itu, cuaca agak mendung, saya kesulitan mencari eks lokalisasi Kali Biru, Slorok, Kromengan. Sempat bablas sekitar 4 kilometer dari lokasi itu tetapi berkat bertanya warga sekitar, saya berhasil menemukan lokalisasi yang dekat dengan jalan raya itu.

Jalan makadam yang hanya bisa dilalui sepeda motor menjadi akses masuk ke tempat lokalisasi Kali Biru yang ditutup dua tahun yang lalu. Saya percaya diri masuk sendirian, dengan tas ransel di belakang, yang berisi buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur.Warung kopi menjadi tujuan utama untuk memesan kopi dan membeli Gudang Garam.

Saya duduk dan mata saya merekam suasana. Pemandangan yang sudah saya prediksi sebelumnya, beberapa perempuan dengan pakaian serba pendek santai di depan rumah. Saya amati usianya bervariasi, mulai 30 – 40 tahun. Ada juga yang 20 tahunan, namun hanya beberapa. Mereka adalah pelacur yang menawarkan diri secara terbuka, mereka berani menjajakan tubuhnya di tempat lokalisasi yang dinyatakan tutup oleh pemerintah.

Dalam hati saya, merasa kasihan kepada mereka. Karena dengan jalan yang dinilai hina ini, mereka bisa menikmati hidup, bisa membeli pulsa, bisa membeli gula, bisa membeli detergen, hingga membeli buku, dan membeli susu untuk anaknya.

Asap mengebul dari rokok Gudang Garam yang saya bakar, tiba-tiba seorang perempuan seumuran ibu saya, 40 tahun menawari saya untuk masuk ke dalam kamar. Saya hanya tersenyum dan menolak dengan halus bahwa saya tak memiliki banyak uang. Dia menawari Rp 100 ribu saja dalam satu jam. Lagi. Saya tersenyum dan menolak tawarannya.

Perempuan itu pergi ke dalam rumah yang berhimpitan dengan warung kopi. Satu menit kemudian, mengaggetkan saya dengan menawari kembali dari jendela. Saya yang sedang mengetik cerita pendek pun terkaget dan tersenyum lagi, serta menolaknya untuk ketiga kali.

Adzan dhuhur berkumandang, saya berpamitan kepada perempuan itu untuk pulang. Saya meminta maaf karena uang saya hanya sedikit dan belum bisa berbagi. Dia diam dan membiarkan saya melangkah pergi.
Dalam batinku, suatu ketika ingin mengenali lebih dalam para perempuan itu, ingin juga merekam kehidupannya mulai pagi hingga pagi lagi.

Lokalisasi pinggiran di era milenial ini masih menjalankan bisnisnya secara blak-blakan. Mereka yang mempunyai uang berlebih, melengkapi fasilitas dengan karaoke dan minuman beralkhohol. Para tamu datang silih berganti untuk melampiaskan nafsunya. Pemerintah di luar sana, bersitegas sudah menutupnya. Para perempuan tadi dianggap sebagai sampah masyarakat karena pekerjaanya hina. Perempuan itu didekati untuk dilatih berbagai keterampilan, sehingga bisa menjauhi pekerjaan di lokalisasi. Sayang itu cara lama yang hanya sukses sesaat, perempuan di lokalisasi menyakini hanya bisa bekerja sebagai pemuas para tamu, sehingga kembali lagi walau tempat mereka bekerja mereka dinyatakan tutup.

Ini menjadi stigma yang berkembang luas, perempuan penghibur di lokalisasi dianggap hina dan penuh dengan dosa. Iya kalau begitu semuanya suci, hanya pelacur yang berdosa. Padahal orang yang menganggap hina itu mengalami kedangkalan pikiran. Mereka hanya mempercayai informasi begitu saja tanpa mendalami atau bertanya langsung kepada objeknya.

Semua perempuan di lokalisasi itu bervariasi latar belakang untuk terjerumus di dunia selangkangan. Sejak kecil, mereka barangkali tidak ada yang bercita-cita menjadi ‘kupu-kupu malam’. Seperti yang dituturkan dari buku novel Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Tokoh utama yang bernama Nidah Kirani. Seorang aktivis hijabers yang mondok di pesantren, lalu tertarik ikut organisasi Islam yang ingin mendirikan negara berlandaskan agama.

Kiran berkenalan dengan Mas Dahiri, lalu dua orang itu terus mengadakan diskusi dan Kiran masuk ke jamaah yang ingin mendirikan negara islam di Indonesia. Dia pun berani berbohong kepada orang tua, seperti uang saku yang digunakan untuk biaya organisasi. Itu pun diperbolehkan oleh organisasinya.

Semangatnya menggebu-gebu, dia pulang kampung di desa, virus yang dipercayainya mulai disebarkan kepada warga, tak membutuhkan waktu lama untuk mencuci otak beberapa orang untuk bergabung dengan jamaahnya.

Perjalannya menemukan kekecewaan, sebab militansi berbuah fana, teman-temannya di organisasi itu tak berjuang yang direncanakan. Setiap Kiran bertanya mengenai sesuatu pergerakan organisasi, dia langsung diminta untuk tidak bertanya lebih jauh. Kiran tidak tahan dan kabur dengan beberapa temannya.

Dalam cerita itu, tokoh utama sudah tidak mempercayai konsep cinta, nikahan, dan lelaki. Setelah keluar dari organisasi itu, dia aktif dengan berbagai aktivis, kebanyakan laki-laki. Dia pun merelakan keperawanan direnggut kaum lelaki. Itu tak sekali. Berbagai lelaki yang menawarkan sebagai pacar langsung diterimanya, lalu tidur bersama, beberapa hari kemudian Kiran meminta putus. Ada juga yang mengajak menikah, namun Kiran tak mau dan lantang menolaknya.

Kiran mengaku nikah adalah ide teraneh yang dia ketahui. Karena nikah seperti pembirokrasian ego negatif dari cinta, yakni ego kepemilikan total yang berarti sebuah pemerkosaan dan pemenjaraan sumber energi cinta yang dimiliki seseorang. Masih menurutnya, dengan pernikahan, perempuan pun akhirnya berhasil dirumahkan sehingga posisinya semakin termarginalkan.

Lalu orang yang diluar pernikahan dan melakukan hubungan seksual dianggap pelacur, perempuan jalang. Padahal, apa bedanya pelacur dan perempuan yang menyandang status istri? Mereka adalah penikmat seks laki-laki. Seks tetap bernama seks walaupun dilakukan satu atau banyak orang.

Kiran terus bercerita pernikahan seperti perbudakan, seperti istri yang hanya dihargai Rp 100 ribu untuk dipakai seumur hidup. Tak lagi mempunyai nilai tawar saat dicerai. Nikah hanya legalisasi seks.

Kehidupannya sebagai mahasiswi terus mengalir, lalu bertemu dengan dosen. Tak disangka, orang yang berpendidikan itu mempunyaai pekerjaan sampingan sebagai germo. Kiran pun girang karena ada yang membukakan jalan. Dia pun berkenalan dengan banyak pejabat serta wakil rakyat. Dia pun menjadi pelacur untuk pejabat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Fenomena yang saya lihat sendiri serta cerita yang saya baca di atas menjadi referensi. Saat saya masih remaja, cerita mengenai seks masuk dalam kategori tabu, sehingga tidak layak untuk diperbincangkan. Saat saya masuk kampus dan masuk dalam lubang pers mahasiswa. Diskusi membahas masalah tabu ini, sehingga membuat pikiran saya terbuka dalam memandang fenomena. Saya dipaksa untuk berpikir lebih dan bertanya mengapa.

Saya semakin mengerti, bahwa cerita tabu kalau tidak ditelusuri secara mendalam dan komprehensif, maka tabu sesungguhnya diciptakan untuk memegang kendali referensi proses ideologi dalam mendefiniskan fenomena. Pengertian mudahnya, kalau mempercayai tabu dengan mudah, maka akan dikendalikan oleh ideologi tertentu.

Setelah liputan selesai, saya berdoa agar para perempuan di lokalisasi Malang Raya dan daerah lainnya mempunyai penghidupan yang lebih baik. Pekerjaan kalian tak mudah, dan seringkali bayarannya hanya sepeser Rupiah.

Foto : Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *