Home / Uncategorized / Transportasi yang Adil dan Beradab

Transportasi yang Adil dan Beradab

Yuk cari info ferry Transperth,” kata seseorang tadi pagi. Ajakan itu membuat saya berpikiran kembali tentang petualangan baru bersama transportasi publik di negara Kangguru. Pemerintah Australia Barat dengan ibukota di Perth sangat peduli dengan transportasi, armadanya berupa bus, kereta api, dan kapal ferry. Putih dan hijau mendominasi warna Transperth.

Transperth, hal baru bagi saya yang masih awam di negeri orang ini. Pengalaman pertama menunggu di halte bus, saya tak bisa tag in tag on (membayar menggunakan smart rider), dan keliru ambil posisi duduk di bagian pengguna khusus (penyandang cacat, orang tua, dan ibu hamil) tak membuat kapok merasakan sensasinya.

Saya memiliki kartu untuk menggunakan Transperth bernama Smart Rider. Kartu ‘sakti’ berfungsi sebagai alat pembayaran dan bisa digunakan jika saldo di dalamnya mencukupi. Keuntungan kartu ini mendapatkan potongan 25 persen jika dibandingkan dengan pembayaran tunai. Kalau di Malang seperti makan di Sengkaling Kuliner lah. Kartu ini difungsikan saat akan menaiki angkutan transperth yang disebut tag on sebagai tanda menjadi penumpang. Saat sampai di daerah tujuan, saya turun dari transperth yang disebut tag off sebagai tanda telah berakhirnya menjadi penumpang bersamaan dengan pengurangan saldo sebagai pembayaran.

Berbeda dengan di Indonesia. Contoh kecilnya di setiap armada Transperth memiliki ruang bagi pengguna khusus. Seperti di bis, tempat duduk depannya dibuat melebar dan ada alat otomatis khusus untuk pengguna kursi roda. Alat itu berfungsi untuk memudahkan pengguna kursi roda saat akan menaiki atau menuruni transperth. Sementara itu, di Indonesia pengguna khusus untuk itu belum saya temukan sampai 2 bulan lalu. Di Indonesia, orang tua atau ibu dengan anak kecilnya juga disamakan dengan penumpang lainnya, mendapat tempat duduk di bagian tengah dan berakhir dengan kesulitan sewaktu turunnya.

Pengalaman pertama lainnya, menikmati transperth kereta api yang aduhai. Sebelumnya, di hari yang sama sudah mendapati kesalahan fatal saat naik bus, saya akhirnya tak mau gegabah mengambil tempat duduk. Saya melihat sekeliling dan menemukan tulisan “priority” dan bergambar orang tua, penumpang berkursi roda, dan ibu hamil. Saya ragu-ragu untuk sekedar duduk, ditambah lagi dengan sekeliling saya. Dalam satu gerbong, saya bersama orang berambut putih dan berkeriput. Saya segera berdiri dan dengan langkah cepat pindah ke gerbong berikutnya. Di gerbong ini saya baru sadar, tulisan dan gambar “priority” yang berarti “prioritas”. Hampir sama dengan bus transperth, kereta api juga memberikan fasilitas tempat duduk yang memang hanya untuk pengguna khusus. Tempat duduk di kereta api transperth masing-masing 2 buah di dekat pintu keluar masuk kereta api.

Lalu tempat duduk tak permanen posisinya. Jika tidak ditempati maka posisinya akan tertutup dan itu bisa digunakan untuk penumpang berkursi roda. Tak hanya itu, pesepeda angin juga mendapatkan tempat tersendiri. Seseorang bisa menaruh sepedanya di tempat priority yang tertutup dan penggunanya bisa duduk di tempat lainnya.

Barangkali agak naif jika dibandingkan dengan Indonesia. Transportasi umum saja di sini perhatian dan seksama dan peduli akan kebutuhan para pengguna khusus, jadi biasa sekali jika melihat orang berkursi roda dan menaiki transperth sendiri. Mereka mandiri dan memang itu hak mereka mendapat fasilitas umum yang mudah untuk diakses.

Undang-undang di Indonesia sendiri sebenarnya sudah mengatur tentang kaum disabilitas. Seperti Undang Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Tapi masih belum maksimal jika memang dibandingkan dengan transperth.

Pengalaman terbaru menjadi penumpang bus Indonesia, yakni sewaktu saya pulang kursus dari Pare, Kediri ke kota Malang sekitar tiga bulan yang lalu. Bus Puspa Indah dan Bagong tak menyediakan tempat duduk prioritas dan kemudahan akses untuk penumpang berkursi roda. Kereta api pun hampir sama. Sekitar setahunan lalu masih merasakan menaiki kereta api jurusan Malang-Surabaya dengan sistem memesan tiket jauh hari sebelum keberangkatan. Walaupun ada perbaikan fasilitas pendingin udaranya (AC) dan pengurangan jumlah penjaja makanan di gerbongya, tapi sampai saat itu, saya masih belum menemukan kemudahan bagi pengguna penyandang cacat.

Di kereta api Transperth, pengguna baru seperti saya atau penyandang tuna netra sangat terbantu oleh pengumuman stasiun kereta api selanjutnya. Mereka mengumumkan dengan pengeras suara, itu berisi  waktu akan dibuka dan ditutupnya pintu kereta api, sekaligus akan berangkatnya kereta api menuju stasiun selanjutnya.

Ah, Indonesia semoga melakukan apa yang jadi kewajibannya di transportasi publik. Rakyat membutuhkan transportasi yang adil dan beradab. Ingat kata bang Iwan Fals, “Orang bilang tanah kita tanah surga.” Menjadi surgalah tak pandang bulu sesuai hak mereka.

Foto : busaustralia.com

About Shabrina Nur Adila

One comment

  1. Catatan perdana yang luwes dari seorang turis Malang di Perth. Berharap saya bisa mengalaminya sendiri. :)’ Ditunggu catatan berikutnya, demi Indonesia, yang adil dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *