Home / Uncategorized / Tanah Air Tak Menolak Eks Tapol 65

Tanah Air Tak Menolak Eks Tapol 65

Dimas Suryo, seorang eks tapol (tahanan politik) 65 yang tertahan di negeri orang, dan tak bisa pulang sampai masa tua. Kisahnya bermula saat ia menghadiri konferensi pers di Santiago selama beberapa pekan, namun situasi politik di Indonesia saat itu mengharuskannya tetap tinggal di Santiago, sampai batas waktu yang ia sendiri tidak tahu pasti.

‘Jangan pulang koma tunggu sampai tenang titik ibu dan aku baik-baik koma hanya diminta keterangan titik’, begitu isi telegram yang ditulis oleh Aji Suryo, adik Dimas yang sedang berada di Solo. Dikirim pada pekan kedua setelah prahara September 1965, beberapa pekan sebelum peristiwa 30 september terjadi. Pada tahun 1965, “hanya diminta keterangan” memiliki elemen teka-teki, bisa saja hanya diinterogasi, bisa juga disetrum.

Sejarah- meski tak tertulis- membuktikan untuk tiga tahun berikutnya setelah 1965, Indonesia memiliki beberapa tahap kekejian: perburuan, penunjukan nama, penggeledahan, penangkapan, penyiksaan, penembakan, dan pembantaian.

Dimas bersama ketiga rekannya, berkelana berpindah dari satu negara ke negara lain, bermula dari Santiago, Havana, Kuba, Peking. Saat di Peking ini paspor Indonesia mereka dicabut. Sampai pada akhirnya mereka memutuskan menetap di kota Paris, Prancis. Bagi Dimas, Paris bukanlah rumah tempatnya pulang dan menetap, melainkan hanya sebuah rumah persinggahan sebelum ia kembali pulang ke negerinya, Indonesia.

Di Paris, ia bertemu dengan seorang perempuan yang akhirnya ia nikahi. Adalah Vivianne Deveraux, seorang mahasiswi Universitas Sorbonne, pemilik sepasang mata hijau biru, yang membuat Dimas jatuh hati saat pertama kali melihatnya.

Pada Vivianne, Dimas membuka segala tentang dirinya, tentang sejarah negerinya yang saat itu sedang bergejolak, tapi tidak tentang perempuan yang pernah membuat hatinya tergetar saat mendengar namanya sewaktu kuliah dulu, bahkan sampai saat ia bertemu dan menikah dengan Vivianne.

Setahun setelah pertemuannya dengan Vivianne, pada Mei 1968 saat Prancis sedang bergejolak, Dimas menikahi Vivianne. Mereka menikah di sebuah kebun anggur milik paman Vivianne, yang juga tempat tinggal keluarga besar Deveraux. Perayaan pesta pernikahan yang meriah, serta keluarga Vivianne yang menyambut Dimas dengan baik, membuat Dimas merasa memiliki keluarga yang memeluknya erat. Namun Vivianne menyadari, sejak awal Vivianne dan Dimas bertemu mata di bawah patung Victor Hugo, Prancis tak pernah menjadi rumah bagi Dimas, karena bagi Dimas rumah adalah tempat dimana ia merasa bisa pulang. Dan Vivianne mengerti, Dimas adalah burung camar yang senantiasa ingin kembali ke sangkarnya, ke tanah kelahirannya, bukan kepada keluarga yang dibentuknya bersama di benua tempatnya sekarang tinggal.

Awal kehidupannya di Paris, Dimas mendapat kabar keluarga juga orang-orang terdekatnya di Indonesia melalui surat-surat. Tentu ditulis dan dikirim oleh sanak yang tidak kena ‘ciduk’, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan penangkapan di tahun 65 terhadap sejumlah orang yang diduga anggota PKI, simpatisan PKI, sanak atau rekan anggota PKI, ataupun yang pernah terlibat dalam kegiatan PKI. Karena setelah peristiwa september 65, beberapa rekan Dimas dari Kantor Berita Nusantara, tempatnya dulu bekerja, dinyatakan hilang, sementara yang lain telah kena ciduk, ada yang dipenjara, dibunuh, ataupun tak jelas nasibnya.

Sebuah surat dari Kenanga, putri sulung Hananto, rekan kerja Dimas dulu di Kantor Berita Nusantara, berisikan kabar Hananto beserta anak istrinya, serta dengan jelas menceritakan situasi yang terjadi pada mereka sejak Indonesia bergejolak di tahun 1965. Surat yang ditulis Kenanga tiga tahun setelah peristiwa 65 itu bercerita bagaimana aparat membawa Bapaknya pergi, yang setelah itu tak jelas lagi kabar dan keberadaannya. Bagaimana aparat membawa dan menahan ibu beserta dirinya dan adik-adiknya di sebuah kantor di daerah Budi Kemuliaan.

Kenanga bercerita, setiap hari ibunya ditanya terus-menerus dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang, dari pagi sampai malam, sampai capek, sampai kedua mata ibunya bengkak dan wajahnya lebam kehitaman. Sementara Kenanga yang saat itu masih berumur sangat belia, dipaksa membersihkan beberapa ruangan setiap pagi, menyapu dan mengepel bekas darah kering yang melekat di lantai. Mendengar suara jeritan orang-orang, laki-laki juga perempuan, banyak sekali, dan bergantian.

Dari surat pula Dimas tahu air sungai yang telah membesarkannya di kota kelahirannya, Solo, telah menjadi warna merah karena darah dan telah menjadi lautan manusia juga darah.
Melalui surat-surat yang diterima Dimas, yang pada akhirnya dibacakan pada Vivianne, serta cerita-cerita Dimas tentang negeri dan masa lalunya, Vivianne bisa mengerti yang terjadi pada Dimas. Ia menyadari, ada sesuatu yang mencegah Dimas untuk berbahagia. Ada kekacauan politik yang bukan sekedar mengalahkan, tetapi merontokkan kemanusiaan Dimas juga kawan-kawannya, hingga mereka harus memungut serpihan diri dan membangun itu semua kembali, agar bisa kembali menjadi sekumpulan manusia yang memiliki martabat yang utuh. Politik memang tak pernah sederhana, pergumulan ideologi adalah pembungkus atau sekedar pretensi untuk kegairahan akan kekuasaan.

Terlepas dari pergumulan politik yang terjadi, Dimas beserta kawan-kawannya, juga para eks tapol 65 lainnya adalah sekumpulan manusia, bahwa ada manusia sebagai manusia tanpa kepentingan politik atau apapun dan karenanya patut diperlakukan atas nama kemanusiaan.

Bersama Vivianne, Dimas hidup bagai seorang pengelana, beralih profesi berulang kali sampai ia dan ketiga rekannya bekerjasama membangun sebuah usaha kuliner. Restoran Indonesia, begitu mereka memberi nama pada usaha kuliner yang mereka dirikan, dengan Dimas sebagai koki utama. Mereka membangun ruh Indonesia pada Restoran itu, membawa aksen-aksen berupa wayang kulit dan topeng-topeng yang digantung pada dinding ruangan, meramaikan suasana restoran dengan iringan musik khas Indonesia serupa gamelan, juga tentu saja menyuguhkan menu-menu kudapan khas Indonesia.

Tak beda jauh dari Restoran Indonesia, Dimas membawa serta ruh Indonesia ke apartemen tempatnya tinggal. Ia menaruh dua stoples besar rempah yang didatangkan khusus dari negerinya, saat kelak Indonesia sudah tidak bergejolak. Satu stoples berisi bubuk kunyit kuning, stoples kedua berisi cengkih. Ada juga dua sosok wayang kulit yang digantung di dinding ruang tengah apartemen, sosok wayang Ekalaya dan Bima.

Menginjak lima tahun usia pernikahannya dengan Vivianne, lahirlah puteri yang Dimas beri nama Lintang Utara. Semasa Lintang kecil, mereka hidup sederhana dan berbahagia, menonton film-film retro yang diputar di alam terbuka setiap Sabtu sore, bercerita tentang kisah wayang sembari menunggu film diputar, berkunjung ke warung buku bekas Antoine Martin, mampir ke Shakespeare & Co. Salah satu toko buku yang paling disukai seniman dunia, jika ada sedikit uang. Sampai ditemukannya sebuah surat oleh Lintang, yang segera diberikannya pada Vivianne.

Sebuah surat yang rupanya tak pernah Vivianne tahu, surat dari seorang perempuan di masa lalu Dimas, yang masih saja membuat hati Dimas tergetar bahkan sampai hadirnya sosok Lintang. Sejak itulah Lintang menyadari, hari-harinya bersama ayah dan ibunya menyaksikan film di udara terbuka itu akan segera berakhir.

Beberapa bulan setelah Dimas dan Vivianne berpisah, Lintang mulai merasakan “ada sesuatu” antara ayahnya dan Indonesia yang tak bisa tergantikan oleh apapun dan siapapun. Lintang menyadari bahwa setiap tahun, ayahnya rutin mencoba mengajukan permohonan visa untuk masuk ke Indonesia. Setiap kali permohonan Dimas ditolak, ia selalu memainkan wayang kulit Ekalaya dan mendalang sendiri, lantas menyendiri di kamar membaca surat-surat lama.

Lintang memahami ada sesuatu dalam diri Ekalaya yang membuat ayahnya mencoba bertahan. Dalam kisahnya, Ekalaya ditolak berguru oleh Dorna dan dia tetap mencoba ‘berguru’ dengan caranya sendiri, yakni membuat sebuah patung Resi Dorna dan menyembahnya setiap hari sebelum berlatih memanah. Hingga Dorna mengkhianati Ekalaya, Ekalaya tetap menyembah dan menyerahkan potongan jarinya pada Dorna. Ekalaya tahu, meski ditolak sebagai murid Dorna, dia tidak ditolak oleh dunia panahan.

Dimas tahu, ia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi ia tidak ditolak oleh negerinya. Ia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya ia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama, dan beberapa genggam bubuk kunyit kuning di stoples kedua di ruang tamunya, hanya untuk merasakan aroma Indonesia. Lintang menyadari, ayahnya seorang Ekalaya. Ia ditolak tapi ia akan bertahan meski setiap langkahnya penuh jejak darah dan luka.
Foto : www.getscoop.com

Anisatun Solihah

Seorang pengendali udara terakhir, aktivis Lazada, Zalora, dan Beribenka.

About Anisatun Solihah

Anisatun Solihah
Seorang pengendali udara terakhir, aktivis Lazada, Zalora, dan Beribenka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *