Home / Uncategorized / Surga Kecil yang Adik Sukai

Surga Kecil yang Adik Sukai

Ada surga kecil di Kota Batu. Itu yang dihadirkan oleh kerja bareng dua tokoh agama secara nyata, bentuknya berupa penanganan medis yang cukup kepada korban pelecehan seksual anak di bawah umur yang terjadi di awal Desember lalu. Dua tokoh itu kepala pastor Gereja Paroki Katolik Gembala Baik, Romo Michael Agung dan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu, Nurbani Yusuf.

Ceritanya berawal dengan kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang satpam kepada seorang siswi SMP di Kota Batu. Aksi biadab pelaku sudah menjurus ke eksekusi pemerkosaan, meskipun belum sampai persetubuhan. Ini membuat saya jengkel dan murka kepada ulah pelaku yang bekerja sebagai petugas keamanan itu. Sekitar satu minggu setelah kejadian, belum ada respon atau pernyataan resmi dari kepolisian hingga pemerintah untuk menjenguk korban. Di Kota Batu juga berlangsung masa kampanye calon wali kota, akan tetapi para calon terkesan diam. Lalu beberapa hari kemudian, dua tokoh agama melakukan kerja bareng agar korban mendapatkan pelayanan medis yang cukup, polisi khususnya Kapolres Batu AKBP Leonardus Simarmata juga turut andil dalam penanganan medis sehingga lebih baik dari pada sebelumnya.

Fenomena ini membuat saya menjadi ayem di tengah hiruk pikuk bejatnya moral hingga keramaian kisruh agama, seperti pengusiran umat Nasrani yang beribadah di Gedung Sabuga Bandung, Intan yang tak berdosa yang meninggal karena ledakan bom Molotov di sebuah gereja di Samarinda serta kaum Syiah yang tak boleh kembali ke Sampang.

Saya melihat aura yang damai dari dua tokoh idola saya. Beberapa waktu lalu juga sempat berbincang dengan kedua tokoh itu. Saya hormat kepada bapak-bapak yang menyebarkan benih kedamaian. Tulisan saya tidak berniat untuk melebih-lebih kebaikan, namun merekam agama yang berbeda bisa menghadirkan surga kecil bagi yang kaum yang lemah.

Saya hanya ingin melihat semuanya untuk meresapi perbedaan dan mewujudkan perdamaian, serta mengutuk pelaku pelecehan seksual kepada anak-anak.

Membincang dua tokoh pemuka agama idola saya, pertama Romo Agung, mantan rektor sebuah kampus di Malang ini sangat gayeng dengan umat agama lain. Tempat ibadahnya terbuka untuk nobar atau berdiskusi mengenai toleransi. Bertukar pengetahuan tentang agama terjadi begitu dekat di suasana yang hangat.

Menurutnya sebagai kepala gereja harus menyatu dengan umat Katolik dan umat agama lainnya. Dia pun sesekali menyelipkan ajaran agama lain saat misa. Seperti tahun lalu, menyelipkan Hari Natal yang berbarengan dengan Maulid Nabi. Itu menjadi tanda perdamaian dari masing-masing agama.

Romo juga mendesain sebuah lomba voli antara pengurus gereja dan warga sekitar yang mayoritas muslim. Contoh kecil yang aduhai untuk terus terjaga dan lestari.

Romo Agung peka kepada isu-isu di sekitar gereja. Seperti kasus pelecehan seksual, dia tak berdiam diri di gereja, namun keluar bersama tokoh agama lain untuk berempati kepada korban yang masih duduk di sekolah menengah pertama itu.

Tokoh kedua yang saya idolakan, Nurbani Yusuf, saya menemui untuk wawancara sosoknya karena terpilih kedua kali sebagai PDM Kota Batu beberapa waktu lalu. Waktu itu dia enggan untuk muncul di media, dia beralasan takut dipelintir dan masuk dalam politik, serta berbarengan dengan momentum Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Kota Batu. Berkat penjelasan kalau tulisan mengenai dirinya berisi tentang toleransi, dia rela tulisan sosok beliau yang saya tulis muncul di koran lokal.

Nah, Pak Nur ini punya gairah menyebarkan toleransi yang tinggi. Dia terbiasa memimpin diskusi antar umat beragama. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga tak sungkan untuk berceramah di hadapan orang Nahdliyin. Dia pun menginisiai untuk nyekar di makam pendiri Muhammadiyah yang jarang dilakukan oleh orang Muhammadiyah lainnya. Tujuannya untuk mengenang jasa-jasa pendiri itu serta mendoakannya.

Kepeduliannya tak melulu berhubungan dengan agama, akan tetapi hubungan dengan manusia. Contoh konkretnya membantu korban kekerasan seksual. Nurbani Yusuf terus memberikan dukungan moral kepada korban dan keluarga yang sedang sedih.

Benih-benih toleransi dari kedua tokoh idola saya itu patut disebar seluas-seluasnya. Itu agar kita bisa menonton film toleransi di berbagai tempat ibadah, hingga diskusi yang hangat di mana pun berada, serta memperjuangkan kaum lemah yang tak berdaya serta minoritas.

Foto: ibudanbalita.com

 

 

 

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

3 comments

  1. trus… nasip adike piye, mas?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *