Home / Uncategorized / Si Ringkih dan Si Heroik

Si Ringkih dan Si Heroik

Jujur saja, dalam diri para lelaki tersimpan sekelumit -kalau tidak banyak- jiwa heroik yang terkadang muncul untuk ‘melindungi’ perempuan. Karena setelah saya telusuri, ternyata laki-laki itu lebih mudah menyukai perempuan yang terlihat lemah, sehingga membutuhkan perlindungan. Lelaki menyukai perempuan agak cengeng, dan sedikit manja, ketimbang perempuan yang kuat, mandiri, seperti lirik lagu Metallica ‘Sick and tired I stand alone’.

Perempuan yang dilukiskan di penggalan lirik tersebut biasanya memang terlihat tidak terlalu membutuhkan laki-laki karena semua hal bisa ia kerjakan sendiri. Bisa jadi perempuan itu tidak mau didominasi apapun, termasuk lelaki. Perempuan itu membenci merengek atau manja.

Lelaki yang melihat hal itu berpikir bahwa perempuan tersebut tidak memerlukan bantuan ataupun dikasihani. Sedangkan jiwa laki-laki adalah heroik, ingin melindungi. Dan dengan ‘jasa’ itu ia mendapat pengakuan. Maka dari itu mereka suka dengan perempuan yang terkesan lemah dan ringkih.

Padahal kenyataannya, perempuan yang kuat dan mandiri kadang juga lemah dan ringkih, tetapi ditahan. Perempuan yang kuat bukan berarti tidak membutuhkan kasih sayang dan halus budi laki-laki kepadanya, meskipun berbagai hal bisa dikerjakan sendiri.

Perempuan yang kuat itu seperti telaga. Dengan sumber mata air yang sejuk bisa memberikan rasa lega kepada siapapun yang mencebur ke dalamnya. Namun telaga itu tidak sembarang bisa dijamah. Ada dinding batu terjal yang membuat kebanyakan orang tidak tahu bahwa ia menyimpan kehidupan nan sejuk.

Saya memiliki teman perempuan, katakan namanya Daun. Bagaikan daun, ia seringkali menjadi tempat berteduh teman-temannya dari keluh kesah. Daun tidak pernah menolak keluh kesah teman-temannya,  sebagian besar curhatan berupa masalah asmara. Ia selalu bisa merangkul dan meyakinkan kembali jiwa-jiwa ‘Si Ringkih’ tersebut untuk menghadapi masalahnya dengan tegas dan berprinsip.

Apakah Daun tidak memiliki masalah dan kegoncangan hati sedikit pun dalam hidupnya? Daun bukan tipe perempuan yang suka menceritakan masalah pribadinya pada orang lain. Namun entah pada hari itu angin timur sepoi berhembus menerbangkan daun-daun kering yang sudah tak tertopang ranting sehingga membuatnya berguguran juga. Daun meluapkan perasaannya kepada saya, bahwa ia menyukai Dahan.  Siapa itu Dahan, ternyata pacarnya si Bunga, perempuan ayu, lembut, dan seringkali terlihat manja kepada Dahan meski di depan teman-temannya.

Seperti namanya, Bunga sering menjadi pusat perhatian karena wajah cantiknya, sorot matanya yang sering menyipit, bicaranya yang merdu dan terkadang diberi ‘bumbu’ merengek jika ia digoda atau dijahili. Sebelum bertemu dengan Bunga, Dahan sudah bersahabat dengan Daun. Dahan bukannya tidak tahu kalau Daun menyukainya. Ia tahu, namun urung menyambut rasa sahabatnya itu hingga ia bertemu dengan Bunga.

Usut punya usut, Dahan jatuh cinta pada bunga setelah menolongnya ketika gadis itu pingsan di sebuah acara di kampus. Bunga memang sering pingsan saat tubuhnya tidak kuat menahan sakit, bahkan ketika terkena terik matahari.

Daun, perempuan kuat dan mandiri itu sepenuhnya menyadari dan sedikit menerima kenyataan bahwa orang yang disukainya jatuh cinta dengan perempuan lain. Persisnya setelah ia menangkap sendiri perkataan Dahan kepadanya di sebuah taman tandus.

“Kamu perempuan yang kuat, aku yakin kamu bisa bertahan tanpa aku. Sedangkan dia, aku harus terus menjaganya,” tukas Dahan.

Foto : Pinterest.com

About Nurliana Ulfa

Nurliana Ulfa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *