Home / Uncategorized / “Saya Tidak Butuh Semuanya, Kembalilah ke Rumah”

“Saya Tidak Butuh Semuanya, Kembalilah ke Rumah”

Anda punya rumah?

Saya juga punya. Entah besar atau kecil, gaya klasik atau minimalis bukanlah soal. Rumah sampai kapan pun adalah hajat hidup, tempat lara dan senang berpadu, tempat rindu dan kebencian dipertemukan.

Ayo mampir, rumah kami ada di Desa Kedungdung, sebuah desa di sisi utara kota Sampang, Madura. Desa yang sering dikutuk oleh orang-orang kota karena dianggap biang penyebab banjir, dan puncak kutukan itu terjadi kemarin saat beberapa aparat Kecamatan Kedungdung digelandang oleh pihak yang berwajib karena kasus Dana Desa, keesokan harinya kantor kecamatan tiba-tiba sepi dan media sosial mulai ramai bukan kepalang.

Kembali ke soal rumah, bukan berniat menyombongkan. Kami di sini mempunyai tetangga dengan banyak rumah yang super mewah, semakin masuk ke pelosok semakin kita menemukan banyak rumah besar dengan konsep arsitektur modern. Ya, tentunya minus kolam renang karena kami sangat kesulitan air saat musim kemarau datang.

Warnanya mencolok, teras besar di depan. Dengan halaman yang luas sangat memungkinkan menampung 5 hingga 7 mobil. Jangan pernah membayang berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun rumah besar tersebut karena kelas pegawai haram hukumnya membayangkan.

Rumah bagi sebagian orang di desa kami adalah identitas. Itu untuk menunjukkan kewibawaan dan marwah keluarga. Beberapa orang rela meninggalkan kampung halaman, menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan pada waktunya akan pulang membangun rumah.

Berat, karena banyak yang akan ditinggalkan. Istri yang masih muda, orang tua yang mulai renta dan tentu saja yang paling berat adalah meninggalkan kenangan. Banyak yang pergi tapi sangat sedikit yang kembali.

“Saya tidak takut mati”
“Saya hanya takut lapar”
“Saya tidak butuh semuanya, kembalilah ke rumah”
“Bukan rumah besar ini, tapi rumah kita yang kecil dulu”
Inilah yang dikatakan H. Jadi, orang tuanya yang hidup sendirian dengan rumah besarnya. Tiga orang anaknya ada di Malaysia, bekerja cukup sukses. Tidak ada yang memikirkan bagaimana kelak jika beliau mati, bahkan saat sakit. Orang tuanya dititipkan ke tetangganya dengan kiriman uang yang banyak.

Rumah. Ya, rumah, bukan sekedar susunan batu bata dan semen, bukan hanya paduan genteng dan keramik. Rumah adalah segalanya.\

Foto: Tempo.co

 

About Holil Asyari

3 comments

  1. Sepertinya desa saudara perlu dirukyah. Biar tidak terkututk. Jadi, orang-orang akan betah tinggal di desa saudara

  2. sepertinya tulisannya kurang panjang :[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *