Home / Uncategorized / Pasar dan Tangisan Anak Durhaka

Pasar dan Tangisan Anak Durhaka

Suatu pagi di pasar Merjosari, Kota Malang yang dingin menusuk tulang . Sejak pukul 02.00, para pedagang mulai memenuhi pasar. Sehabis pulang dari kegiatan editing majalah pers mahasiswa, saya  pergi ke pasar itu, karena saya kepincut beberapa cemilan murah dijual di sana, salah satunya ketan.

Sebagai artefak yang masih numpang di Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang, saya punya beberapa pengalaman menarik mengenai pasar ini. Pertama ketika awal masuk organisasi pers mahasiswa. Panitia kala itu yang salah satunya adalah Sasmitha Nur Vinda melontarkan kalimat perintah. Vinda,  jarang sekali membalas senyum apalagi cinta saya, menyuruh saya  pergi ke pasar Dinoyo. Tempat awal di mana pedagang pasar Merjosari berasal. Kala itu sedang ada proses modernisasi pasar.

Dalam prosesnya, para pedagang harus berpindah ke tempat penampungan di daerah Merjosari. Beberapa pedagang menerima dan menutup lapak, beberapa yang lain menolak dan tetap membuka lapak. Di salah satu lapak yang buka itulah saya wawancara.

Saya dan salah satu teman yang saya lupa siapa disambut dengan hangat. Bahkan kami disuguhi teh panas kala wawancara. Mengenang itu air mata saya bercucuran. Bukan karena kebaikan pedagang. Tapi karena senyum yang tak terbalas dari kakak panitia.

Momen berikutnya ketika saya sedang jadi pengurus di uapm inovasi, waktu itu pasar Dinoyo sedang proses pembangunan dan pedagang terpaksa setuju dan terpaksa menempati pasar Merjosari. Sebagai pengurus UAPM Inovasi,  saya mempunyai kewajiban menulis majalah. Saya lupa pemrednya, barangkali Vinda, Aris, atau Imam. Saya memilih tema “pemaksaan” pada momen penggusuran pasar. Akhir pengurusan saya tak mampu merampungkan tulisan saya. Air mata saya mengalir karena mengingat momen itu.

Padahal saya punya kepentingan pribadi dalam menulis masalah pasar. Ibu dan mbah saya tiap pagi kulaan atau memasok dagangan di pasar. Bapak saya bahkan tiap hari ngojek di pangkalan dekat penampungan pasar di Merjosari. Tentu sebagai gabungan entitas diatas seorang anak punya kewajiban untuk membela kebutuhan asap dapur keluarga. Saat itu berhadapan dengan penguasa dan pemodal.

Mengenang kegagalan tulisan saya kala itu. Sebagai seorang anak wajib saya meneteskan air mata.

Hari ini, ketika status mahasiswa berubah menjadi keabadian. Pasar Merjosari mengalami bab baru. Tempat yang dulu dijadikan tempat penampungan mulai betah ditinggali para pedagang. Tempat itu sudah ramai dan banyak pengunjung yang datang kesana.

Bulan November ini, pemerintah ingin memindahkan kembali pedagang ke pasar Dinoyo, tentunya dengan wajah baru, modern, bersih dan tentu mahal. Pedagang mulai menolak dan menggelar aksi di balai kota. Mereka menolak pemindahan karena pasar yang baru tidak sesuai dengan perjanjian yang dulu dilakukan.

Kebersihan dan modernitas yang ditawarkan diikuti oleh biaya sewa yang naik. Tempat yang sekarang sudah diperbarui disuruh menebus dengan ukuran yang dipersempit. Ibu penjual nasi di depan saya, bercerita dengan sangat antusias. Adik dan juga anak ibu penjual nasi itu yang juga berjualan di pasar Merjosari ikut demo menuntut agar mereka tak dipindahkan. Kebijakan kali ini mengancam ibu itu untuk berjualan lagi. Di tempat yang baru menurutnya pedagang tidak boleh membawa kompor. “Mana bisa penjual nasi tak boleh membawa kompor.” Jawabnya.

***

Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke pasar Dinoyo. Dalam proses pembangunan sebuah mall yang berada satu kawasan tepatnya di samping pasar Dinoyo. Pasar yang dulu kotor berganti dengan gedung tinggi, bersih dan full AC. Kala itu hanya beberapa kios yang buka. Beberapa pengunjung yang kebanyakan muda hilir mudik masuk ke dalam mall.

Renovasi pasar Dinoyo sudah rampung dilakukan. Nama pasar dinoyo pun berganti dengan pasar Terpadu Dinoyo. Beberapa toko buka namun mayoritas kios masih tutup tak berpenghuni. Terlihat dari depan tempat yang dulu sebagian terbuat dari kayu kini mayoritas terbuat dari beton dan teralis besi.

Kepada kawan Vinda, yang lagi kebingungan menentukan judul tesisnya. Saya sebut kawan karena untuk menjadi kekasih kayaknya sulit sekali. Alangkah bahagianya saya jika mau mengangkat fenomena pasar dinoyo dalam tesisnya. Langkah awalnya tentu dari menjawab pertanyaan semua pembangunan ini ditujukan kepada siapa?

foto : KlikApa.com

About Asrur Rodzi

One comment

  1. Intinya, vinda terimalah cinta asrus. Plis plis plis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *