Home / Uncategorized / Menjemput Masa Indah Pasca Wisuda

Menjemput Masa Indah Pasca Wisuda

Langit memerah, sore itu saya menatap senja dari sebuah warung kopi pingggir jalan. Tohjoyo Javanes Coffe, namanya. Saya duduk di kursi kayu, terletak di bagian luar coffe. Layaknya suasana sore, langit berwarna abu-abu. Semburat merah memanjang memancarkan cahaya temaram. Adzan lalu berkumandang, tiba-tiba saya merasa tidak nyaman. Pada waktu sore menjelang maghrib seperti ini, dulu waktu saya kecil, saya rajin jalan kaki menuju masjid untuk mengaji. Memakai baju khas melayu, mendekap mukenah dan alquran, saya berjalan damai.

Sesekali saya akan mengobrol dengan kawan, jadwal kegiatan setelah sholat maghrib, ngaji, sholawatan, atau sholat taubat bersama ustad. Saya mungkin bukan termasuk murid teladan yang dikenal dengan prestasi dan sopan santun yang lembut, tapi saya kecil dipercaya ustad untuk menjadi pencatat teman-teman yang melanggar aturan.

Saya akan menulis nama mereka yang telat atau tidak ikut berjamaah dan mereka yang bicara atau bergurau saat mengaji. Daftar nama kemudian saya laporkan kepada ustad untuk diberi hukuman. Karena menjadi pengawas pelanggar aturan, secara otomatis saya dituntut untuk mengikuti segala aturan. Sepulang mengaji, saya berjalan tetap dengan mukenah yang didekap. Ah, kenangan masa kecil yang terasa damai dan dirindukan.

Perasaan tidak nyaman itu, mungkin karena saya merindukan masa kecil yang damai atau karena sore-sore begini saya berada di warung kopi, alih-alih di surau dan membaca alquran. Mungkin saja. Tapi segala hal, meskipun kita anggap tidak baik, tetap mengandung hikmah dan pelajaran. Saat mendapati perasaan tidak nyaman itu, saya jadi berpikir bahwa saya memiliki cita-cita baru.

Saya bercita-cita membangun keluarga kecil di sebuah desa dekat sawah. Saya akan memiliki dua anak yang akan saya rawat, yang akan saya dengar celotehnya terutama waktu sore begini. Mereka akan bersungut atau bahkan lari saat saya hendak memandikan mereka untuk bersiap berangkat mengaji. Mereka akan tertawa berlarian saat saya kejar. Mereka mungkin juga akan menangis karena jeweran. Yang pasti, mereka akan saya besarkan dengan cinta, kebaikan, kebahagiaan, dan ketulusan. Tapi sebelum itu, saya harus berusaha untuk menjadi mapan secara psikis dan finansial. Karena jika tidak, saya takut menjadi seperti Han Mae, salah satu tokoh dalam film korea berjudul Missing.

Han Mae berasal dari Cina yang menikah dengan lelaki Korea. Selain dengan suami, Han Mae tinggal bersama mertuanya. Mertua yang memperlakukannya tidak lebih sebagai alat pembuat cucu. “kamu itu perempuan tidak berharga, kecuali membuat anak” ucap mertua Han Mae suatu ketika. Suaminya juga memperlakukan Han Mae sebatas pemuas birahi, selain objek untuk dipukuli. Han Mae tidak bisa melawan.

Ia tidak memiliki koneksi untuk meminta bantuan orang lain, tidak lancar berbahasa Korea, dan tidak memiliki kekayaan. Saat bayinya diusir dari rumah sakit (RS) karena suami Han Mae tak kunjung membayar tagihan RS, Han Mae hanya bisa menangis histeris dan memohon. Namun pihak RS tidak menghiraukan. Han Mae sudah menjual ginjalnya untuk biaya rumah sakit, tapi uang dari penjualan ginjalnya tak kunjung ia dapatkan.

Suatu malam, tubuh bayi Han Mae tiba-tiba demam tinggi. Han Mae mencoba memanggil ambulan, namun bayi dalam dekapannya telah lemas dan meninggal. Han Mae menagis histeris di jalanan. Bayinya tetap dalam dekapan. Ia sebagai Ibu, yang menjanjikan cinta dalam hidup bayinya, tak bisa mengabulkan. Han Mae berakhir dengan bunuh diri, menceburkan diri ke laut dari atas kapal.

Tragedi Han Mae memang tak hanya disebabkan masalah finansial dan kematangan emosional. Namun setidaknya, dari film bergenre misteri dan dirilis pada 30 november 2016 ini, kita bisa belajar bahwa kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk memiliki bayi. Agar tak meninggalkannya di tong sampah setelah dilahirkan, membuangnya di jalanan, atau menaruhnya di depan rumah orang seperti peristiwa yang santer diberitakan di tivi-tivi.

“Makanya, saya bakal nikah setelah lulus S2.” Ucap kawan ngopi sore itu. Saya hanya tersenyum menanggapinya. Obrolan pernikahan, keluarga, dan cita-cita bukan lagi tema asing yang diperbincangkan saat ngopi bersama sesama mahasiswa tingkat akhir. Saya dan kawan saya hanya bisa memperbincangkannya hingga malam, hingga empat gelas es coklat tandas. Sementara kawan kami nun jauh di sana, yang telah diwisuda beberapa bulan lalu, sedang mempersiapkan acara pernikahan masing-masing.

Foto : okezone.com

About Uswatun Hasanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *