Home / Uncategorized / Menjaga Anak-Anak Korban Teror
A handout picture release by Save The Children shows Ali, a five-year-old displaced Iraqi boy playing as they wait to be screened at the Dibis checkpoint northwest of the northern Iraqi city of Kirkuk on October 16, 2016 after they fled the Islamic State (IS) group held Hawijah area. Iraqi forces launched an offensive to retake Mosul and deal a death blow to the Islamic State group's "caliphate" in the city where it was declared two years ago. / AFP PHOTO / SAVE THE CHILDREN / Ruairidh VILLAR / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /SAVE THE CHILDREN/ RUAIRIDH VILLAR" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Menjaga Anak-Anak Korban Teror

Berita bom memenuhi dinding sosial media. Apalagi ada akun yang mengunggah foto anak-anak penuh balutan perban. Ini sebaiknya tidak perlu untuk menjaga rasa trauma anak-anak itu. Silahkan mengutuk terorisme dengan bijak dan santun.

Kembali lagi ke berita bom, orang tak dikenal mendadak melempar bom molotov di sebuah gereja, Samarinda. Booooooommm… Anak-anak yang menemani orang tuanya beribadah Minggu pagi menjadi korban luka bakar. Pelaku bom yang melarikan diri berhasil tertangkap. Kaosnya bertuliskan tulisan Jihad.

Ra kroso, netes eluh ning pipiku kembali menangisi teror ini. Apakah ini yang disebut jihad tetapi merusak keberagaman di Nusantara?

Saya membayangkan, anak saya terkena bom. Dia terluka bakar dan harus dirawat di rumah sakit terdekat. Beberapa hari kemudian, anak saya yang berusia 7 tahun itu pulih dan bertanya. Kenapa saya di bom? Siapa yang mengebom?

Saya menjawab yang mengebommu orang jahat. Pengebom bercita-cita sebagai tentara, tetapi gagal. Lalu pengebom gila itu menganggap gereja sebagai sarang musuh. Anak saya mengangguk seolah-olah mengerti. Saya sengaja tidak menularkan kebencian dan dendam. Karena teror dan pembunuhan sesungguhnya tidak pernah bisa dipahami. Dia kembali bermain, bernyanyi dan berdoa di gereja serta melupakan peristiwa pilu di Minggu pagi itu.

Saya masih membayangkan, anak saya yang masih polos dengan agama, nantinya akan takut beragama, berikut dengan menjalankan ritual-ritualnya. Jika anak saya terdidik untuk balas dendam kepada orang jahat itu, di dada anak saya akan terlihat sifat kebinatangan lebih keji dan kejam dari si peneror bom tadi.

Cak Nun berkata agama itu ibarat istri, silakan menyakini istrimu paling cantik, tetapi jangan menilai istri orang berdasarkan standar istri sendiri. Ini penting untuk diresapi lebih dalam. Agama menjadi kepercayaan masing-masing yang bersifat privat. Kalau terlalu fanatik kepada agama, ujung-ujungnya mengkafirkan yang lain. Lebih ngeri lagi ingin memusnahkan kelompok yang dianggap kafir.

Teror tak pernah berhenti di negeri dengan penuh kebaragaman ini, mulai dari bom Bali 1 dan 2, hingga bom tolikara Papua tahun 2015 lalu. Semuanya itu berujung dengan duka bagi toleransi yang sedang dipuja-puja. Saya sendiri hanya bisa mengelus dada, sambil misuh “ Juancooook” dengan nada sehalus mungkin.

Saya mendapatkan pencerahan setelah membaca artikel dari Cak Nun yang berjudul Mencintai dan Membenci. Tuhan barangkali akan menghukum atau sebaliknya dengan memaafkan pengebom itu. Entahlah, itu haknya tuhan. Tetapi kondisi sekarang, kita sudah berani menyimpulkan seolah-olah sudah mewawancarai tuhan.

Saya berpikir, pengebom itu melakukan semuanya atas nama tuhan. Sehingga teror dan pembunuhan menjadi sah-sah saja. Bisa saja pengebom pura-pura mengatasnamakan tuhan, sekali lagi bisa saja. Pengebom nyaris mampu membunuh saudaranya sendiri di Samarinda.

Meneror, membunuh, mengusir kelompok minoritas di negeri ini sudah tak asing lagi. Motifnya beraneka ragam, mulai dari mengamankan kekuasaan, mengalihkan isu, menertibkan situasi, mengadu domba, mendapatkan lembaran Rupiah, atau juga permusuhan antar golongan.

Barangkali, si pengebom kalau mampu membunuh saudaranya sendiri, dia akan terlihat semakin pintar, terpelajar, berkembang, serta memahami filsafat dengan baik dan benar. Ada kemungkinan, si pengebom membaca buku sejarah yang penulisnya tidak tahu sebenarnya berlangsung di dalam sejarah. Karena buku sejarah seperti buku roman, isinya berdasarkan pikiran dari penulis. Seperti yang ditulis Cak Nun dalam buku Slilit Sang Kiai.

Di negeri ini, saling membunuh saudara melanda pada peristiwa 1965-1966. Orang yang dibunuh gampang dilupakan, apalagi bagi pembunuh. Akan tetapi, ada kemungkinan orang yang berpihak pada orang yang dibunuh akan menolak lupa, apalagi anak-anak orang yang dibunuh.

Kalau saja ini terus berlangsung demi kejujuran sejarah, apakah anak-anak kita atau lebih tepatnya anak-anak orang yang terbunuh akan terbiasa dengan pembunuhan yang dikehendaki. Anak-anak itu jelas akan meniru apa yang kita lakukan, seperti menyukai dan membenci. Mari menjaga anak-anak korban teror.

Saya membayangkan di negeri ini hidup tanpa agama, seperti yang diyanyikan John Lennon dalam lagu Imagine. Tahun 2004, majalah musik Rolling Stone menempatkan Imagine sebagai lagu ketiga terbaik sepanjang masa. Barangkali perdamaian akan terus bergema.

Saya setuju dengan John Lennon, karena masing-masing orang tidak akan fanatik kepada agamanya masing-masing. Keberagaman pun menjadi indah, dan kebodohan atas nama fanatisme musnah begitu saja.

Tidak ada tempat ibadah, tidak ada orang beribadah, tidak ada kitab suci. Anak-anak akan terus terjaga dari teror. Saya terlalu berandai-andai karena muak dengan teror yang mengatasnamakan agama.

Foto : www.savethechildren.net

 

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *