Home / Uncategorized / Mari Berhenti Membual, Ayo Menangis Bersama

Mari Berhenti Membual, Ayo Menangis Bersama

Sangat sulit rasanya tidak mengaitkan kasus penurunan paksa patung Budha di Tanjung Balai, Sumatra Utara, pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda, aksi teror Gereja Katolik Gembala Baik di kota Batu dengan kasus Ahok.

Mengapa?

Karena media sosial terus menabuh genderang perangnya. Banyak yang mengutuk, mengumpat, dan saling fitnah. Siapa yang paling benar? Ahh, itu pertanyaan yang tidak penting lagi, nyatanya saya dan Anda sudah mempunyai standar kebenaran yang tidak sama.

Selama apapun diskusinya, atau diskusinya ada seduhan kopi arabika paling mahal harganya, lalu perdebatan dilakukan hingga berbusa-busa tetap saja sulit melahirkan perspektif baru.

Banyak kepala yang mengeras, di beberapa daerah semakin banyak orang-orang melakukan intimidasi dan diskriminasi pada minoritas. Jika dibiarkan terus pada akhirnya bisa dimungkinkan memantik terjadi pengusiran bahkan berakhir dengan kontak fisik dan teror.

Mantra toleransi pun sudah tidak sakti lagi. Kepala-kepala enggan membuka jalan untuk berpikir dengan akal sehat. Lalu, sosial media memberikan banyak jawaban, namun juga memberikan kutukan yang masif.

Lihatlah kita yang semakin eksklusif, bahkan saat urusan jodoh dan jarum hilang di lautan bisa ditanyakan ke Google, saat itu pula kepala kita mulai membatu. Maka berhentilah membual, ayo menangis bersama, karena kita tidak benar-benar mencintai perbedaan. Toleransi yang diperingati setiap tanggal 16 November seperti lewat begitu saja. Ajaran tentang Bhinneka Tunggal Ika yang kita terima sejak SD telah gagal, karena serbuan sosial media yang selalu hitam-putih. Bukan hitam-putih acaranya Om Deddy Corbuzier di layar kaca ya.

Dulu, dulu sekali kita punya tokoh bernama Johannes Leimena yang lebih enak disapa Om Jo. Sebuah tulisan di Tirto.id yang berjudul Persahabatan Lintas Ideologi: Natsir, Kasimo, dan Leimena yang ditulis oleh Petrik Matanasi. Liputannya cakep untuk generasi muda yang dijejali berita hoax di sosial media setiap hari.

Om Jo, tokoh Partai Kristen Indonesia sangat dekat dengan Mohammad Natsir, Petinggi Masyumi. Mereka adalah contoh, bahwa Agama dan Ideologi politik bukanlah penghalang dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan.

Bahkan dalam catatan sejarah, Om Jo yang Kristen itu juga ikut berjuang melakukan pembelaan luar biasa saat HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) akan dibubarkan oleh Presiden Soekarno, jadi dedek-dedek kader HMI perlu berterima kasih sama beliau.

Tak hanya itu, saya menilai Om Jo menjadi tokoh toleransi. Dia memang pantas, lihat saja saat Om Jo mempersilahkan Gereja Immanuel sebagai tempat rapat tokoh-tokoh Islam di sekitar tahun 1965. Melihat sejarah yang begitu aduhai, saya kira sudah layak untuk kita menangis bersama. Tempatnya terserah, bisa di depan komputer, di atas sajadah, atau pun saat melihat penetapan Ahok sebagai tersangka. Bila perlu mengumpulkan gerakan ayo menangis di sebuah lapangan atau jalan seperti demo 4/11 itu. Jangan tertawa, karena kami menyangsikan tawa Anda.

Foto : www.viralnovelty.net

About Holil Asyari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *