Home / Uncategorized / Kuasa Itu Bernama Bahasa

Kuasa Itu Bernama Bahasa

Demonstrasi 4/11 yang terjadi secara kompak di berbagai daerah meninggalkan kisah pilu. Apalagi sangat rentan dijadikan ‘alat perang’ untuk banyak kepentingan.

Beberapa efek setelah demonstrasi 4/11 bermunculan. Teman saya misalnya, dia mendengar kata-kata yang tak semestinya terucap, serta temannya menganggap bukan ‘golongan’ mereka lagi.

Itu semua bermula dari pengeditan bahasa. Betapa berkuasanya bahasa. Jangankan teman sejawat, satu keluarga pun bisa saling tidak bertegur sapa karena perbedaan interpretasi kalimat. Banyak sekali interpretasi yang disajikan pada sebuah kalimat.

Ilmu bahasa itu memang sangat penting dipelajari. Beberapa orang yang saya temui, mengaku tidak mengetahui apa bedanya “makan sendok” dengan “makan pakai sendok”. Bukan karena apa, tapi bukankah setiap kalimat bisa dikaji lewat ilmu bahasa, semantik misalnya. Makan sendok itu sama sekali berbeda dengan makan pakai sendok.

Lalu beberapa orang yang memberikan makna tunggal pada kalimat tersebut. Kemudian mereka merasa tersinggung jika ada orang lain yang memaknainya berbeda. Mereka yakin beranggapan bahwa sendok telah dinistakan (Hahaha). Mirisnya, demo 4/11 membuat banyak sekali orang kehilangan teman, dituduh pendukung penista, dan lain sebagainya.

Beberapa orang mungkin sangat menghormati para petinggi agamanya, tapi akal sehat harus bekerja untuk mengkritisinya.

Jadi misalnya begini, ada kisah seorang santri di salah satu pesantren disodomi oleh sang ustadz, tapi karena pemakluman, rasa takut kualat, dan atau sungkan, maka perbuatan tersebut tidak dilaporkan atau bahkan tidak dibicarakan.

Ini sebuah kesalahan Bung. Harus ada yang membicarakan agar ada yang mengkritisi sang ustadz, sehingga semua hal yang salah, bisa diperbaiki. Jika tidak, maka kejadian pahit tersebut akan berulang- ulang terjadi, tanpa ada seseorang pun yang akan meluruskan benang kusut ini.

Dalam ranah demokrasi, setiap pernyataan sikap memang dihalalkan. Tapi tidak menutup kemungkinan banyak pernyataan yang ditunggangi oleh kepentingan lain.

Pertama, saat para peserta unjuk rasa menyatakan permintaan agar Ahok dipenjarakan (karena mereka memaknai Ahok sebagai penista agama), muncullah calon wakil bupati Bekasi bernama Ahmad Dhani, melecehkan dan menghina Presiden, doi yang dulu berseteru dengan salah satu ormas Islam yang berunjuk rasa, kini bersatu.

Kedua, suasana rasialis yang kental membuat orang dari etnis bersangkutan menjadi cemas, beberapa teman yang beridentitas Tionghoa dalam pengakuannya di media sosial, dan beberapa kawan kerja mengaku menjadi paranoid. Unjuk rasa rasialis semacam ini memberikan mereka ingatan kembali tentang efek domino demonstrasi (hampir serupa) pada tahun 1998.

Ketiga, adanya penjarahan mini market di daerah Gedong Panjang, Jakarta. Ketegangan pada saat demo berlangsung seperti mempersilahkan (anggap saja) preman untuk memanfaatkan situasi chaos tersebut menjadi terasa semakin tidak aman, dengan menghancurkan pintu minimarket dan menjarah semua barang di dalamnya.

Sangat disayangkan sekali, bahwa interpretasi dari sebuah kalimat, menjadikan kekeliruan massal. Bukan karena unjuk rasanya, tapi kepentingan yang menunggangi unjuk rasa tersebut berakibat lebih merugikan untuk banyak kalangan. Bangsa Indonesia yang besar, yang mayoritasnya muslim, akan mudah tersulut oleh isu penistaan agama (Islam) yang beredar secara massal.

Bagaimanapun pemaknaan kalimat yang tidak didasarkan pada keilmuan yang mumpuni berakibat banyak sekali hal, apalagi jika dilontarkan berulang oleh petinggi agama. Unjuk rasa 4/11, seperti yang sudah sudah, akan banyak sekali mengorbankan masyarakat sipil, setelah begitu banyak teriakan takbir.

Foto : Pinterest.com

Maria Ulfa

Seorang sarjana sastra yang mengumpulkan kembali kegemaran untuk membaca, menulis, dan menggambar manga

About Maria Ulfa

Maria Ulfa
Seorang sarjana sastra yang mengumpulkan kembali kegemaran untuk membaca, menulis, dan menggambar manga

3 comments

  1. Keren bget tulisannya emyu… Analisis yg bginian hrs q share ke tmn2 d grup ku.. Hmm, pd pinter misuh pasca demo itu.. Emak2, alumni pondok 6 tahun, pun khilangan kata2 santun mereka, krn terprofokasi di medsos..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *