Home / Uncategorized / Kamu Jomblo, Maka Kamu Layak Dihina

Kamu Jomblo, Maka Kamu Layak Dihina

Loh Judulnya kok langsung menyinggung jomblo. Ini kan penghinaan kepada kaum jomblo. Sebentar, saya kira judul itu sebuah contoh untuk pelabelan atau stereotipe yang terjadi sekarang. Biasanya dijumpai dalam obrolan warung kopi, hingga sosial media melalui meme yang mendeskreditkan jomblo. Jadi Jomblo jangan marah dahulu ya.

Sesungguhnya saya tak ingin membahas jomblo, saya lebih tertarik membahas kejahatan manusia di bumi ini yang belum usai. Zamannya Adolf Hitler menjadi salah satu contoh nyata kejahatan manusia itu. Hitler memiliki para tukang jagal Nazi. Kejahatan pria kelahiran 20 April 1889 ini banyak ditentang oleh dunia, karena banyak melakukan pembunuhan. Masa-masa Hitler tumbang, Hitler melarikan diri hingga bunuh diri. Hiks. Lalu Para tukang jagalnya Hitler diadili karena mengeksekusi kejahatan kelas berat itu.

Saya menyakini para tukang jagal hanya petugas lapangan dari proyek genosida. Mereka itu warga negara yang mematuhi hukum. Pasukan jagal sama sekali tidak ada kebencian dan kemarahan kepada Yahudi.

Barangkali sudah banyak yang memahami genosida. Sejarah membuktikan genosida menjadi sebuah peristiwa pembantaian besar-besaran yang didesain sedemikian rupa secara sistematis.

Seperti yang dilakukan Hitler dan Nazi. Kaum Yahudi menjadi korbannya. Hitler yang bengis dan kejam memerintahkan para tukang jagal untuk membunuh sebanyak-banyaknya kaum Yahudi.

Hitler menilai kaum Yahudi sebagai sumber masalah bagi kekuasannya. Lalu pemimpin Partai Buruh Nasionalis Jerman atau Nazi ini menyebar kebencian dan kecurigaan pada Yahudi, dia membentuk propaganda dan stereotipe.

Waktu itu, Yahudi menjadi sosok yang jahat, kejam, kurang ajar bagi kacamata Nazi. Stereotipe itu terus mengalir hingga saat ini. Barangkali kita masih bingung memahami Yahudi sebagai ras, Israel adalah sebuah negara, Judasme itu sebuah ajaran, dan Zionisme itu gerakan politik. Semua itu tidak terbentuk secara alami, semuanya itu mempunyai ragam. Barangkali kita tidak mau mempelajari satu persatu, sehingga menyebut mereka sebagai sesuatu yang negatif.

Saya harus berpikir keras agar contoh terbaru dari genosida. Tapi tak apa, ini untuk membela kepada kaum minoritas yang sedang menangis. Saya berhasil mendapatkan contoh, setelah teman saya di Facebook, Haris El-mahdi menulis status “Ketika Muslim Rohingya dibantai, di mana solidaritas ASEAN? ASEAN, sepertinya, harus menginisiasi sebuah traktat pengarus-utamaan HAM. Dan, Indonesia mempunyai peran strategis untuk mendorongnya.”

Saya berusaha mencari kebenaran kabar itu, melalui situs bbc/voaindonesia telah terjadi pembantaian 150 anggota komunitas etnis Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Pembantaian diduga dilakukan oleh pemerintah setempat melalui tentaranya.

Dari grup wartawan se dunia di WhatsApp, awak media arus utama berusaha menggali data yang akurat terkait pembunuhan itu. Alih-alih bisa memotret atau mewawancarai narasumber, wartawan tidak dapat masuk ke lokasi itu. Kebebasan pers dibungkam, jurnalis Independen tidak masuk ke tempat terjadi perkara.

Saya bersyukur kepada pencipta sosial media. Ada akun dari Human Right Watch yang mengunggah foto mengenai kasus itu. Walau diragukan kebenarannya, tetapi sedikit demi sedikit mulai terkuat kebengisan ini. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Media pemerintah, sebut saja humas, telah merilis kabar. Mereka berdalih ada tentara yang tewas dalam penyergapan, lalu mengirim helikopter untuk menembaki desa di bagian Rakhine.

Saya menaruh dukungan kepada aktivis Rohingya. Mereka menegaskan pemerintah berusaha keras dengan berbagai cara agar Muslim Rohingya terusir dari desa-desa mereka.

Pembunuhan kepada Muslim Rohingya ini karena diduga banyak orang Burma menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Sehingga mereka tidak menyukai kaum itu. Ini sangat sederhana, dari tidak suka, lalu melakukan penyerangan, dan masyarakat ilegal itu mendapatkan pelabelan atau stereotipe yang sangat negatif. Ujung-ujungnya mereka yang minoritas dan ilegal ditumpas atas nama kebencian.

Fenomena di atas membuktikan stereotipe masih berkeliaran. Padahal hal itu mematikan akal sehat. Dalam kasus Muslim Rohingya digambarkan sebagai sosok yang melanggar hukum karena ilegal, selain itu dicurigai bisa mengancam kedaulatan bangsa. Kecurigaan dan kebencian itu melekat. Saya atau Anda berusaha menjelaskan bahwa mereka dikelabui stereotipe, saya percaya mereka tidak akan peduli, dan tidak akan peduli.

Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri. Di Indonesia sendiri stereotipe atau pelabelan melekat kepada komunis. Mereka yang mempunyai faham itu akan disebut tidak bertuhan, penghancur negara, penjagal ulama, dan hal-hal buruk lainnya.

Setelah pembantaian 1965 – 1966, ideologi komunis dinilai telah hilang. Lalu baru-baru ini, di berbagai daerah muncul himbauan untuk memerangi komunisme gaya baru. Contoh nyatanya dekat dengan rumah saya, pembubaran diskusi bertema 1965 yang digagas oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Malang pada akhir September lalu.

Tak hanya untuk komunisme, stereotipe mampu menjalar ke berbagai kelompok. Apabila Anda dinilai kelompok Syiah, barangkali semua ucapan Anda adalah bohong. Apabila Anda mempunyai label Rohingya, maka Anda akan diusir. Kalau Anda Ahmadiyah, sehingga Anda sesat. Kalau Anda dituduh teroris, sehingga Anda harus masuk penjara dan dihukum mati dengan tembakan. Kalau Anda dilabeli orang barat, maka Anda suka seks bebas, suka minum alkohol, dan lain-lain. Bisa saja pelabelan pada Jomblo. Jika Anda dituduh Jomblo, maka harus dihina. Ini contoh pelabelan yang nggilani sekali.

Dengan stereotipe, semuanya kelihatan hitam dan putih. Padahal tidak semua seperti itu. Ujung – ujungnya adalah minoritas yang menangis karena penindasan atas dasar pelabelan. Di Indonesia sendiri sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi, tapi intoleransi masih marak terjadi. Apakah kita sangat malas untuk mencari tahu yang sebenar-benarnya? Kalau ketimpangan itu masih terjadi hingga saat ini, apa bedanya kita dengan zaman Nazi atau 1965?

Mengutip tulisannya Arman Dhani yang berjudul Bengis, bekas punggawa Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) Tegalboto, Universitas Jember itu mengungkap banyak contoh dari stereotipe dan dampaknya. Arman menulis kebengisan ini membuatnya ngeri. Hal itu juga saya rasakan, ngeri dan ngilu. Saya berpikir anak-anak kita nanti, akankah virus kebencian ini akan berlanjut?

Photo: Soe Zeya Tun/Reuters

 

 

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *