Home / Uncategorized / Ini Dia Komitmen Ketika LDR Malang – Taiwan

Ini Dia Komitmen Ketika LDR Malang – Taiwan

Ruri Damayanti, panggil saja begitu, tak menyangka kalau kepergiannya studi ke Taiwan membuat urat nadinya makin pilu. Jantungnya kerap kali berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mendapat kesempatan berharga untuk melanjutkan studi di National Central University, Zhongli, Taoyuan, Taiwan.

Kesempatan langkah ini ia dapat satu tahun lalu, tepatnya saat menerima kabar dari sebuah lembaga yang membantunya untuk studi ke luar negeri. Kabar ini ia terima saat pagi sekali ketika mata baru saja melek. Ia senang juga terlampau semangat, orang tuanya benar-benar support atas keberhasilannya ini. Namun di sisi lain, nyali Ruri agak menciut, selain harus belajar Bahasa Mandarin, ia juga memantapkan Bahasa Inggris. Tak hanya itu, Ruri harus meninggalkan keluarga dan Kota Malang dalam waktu yang lama. Terlebih dari itu, ia harus meninggalkan Baskoro, pacarnya untuk beberapa waktu.

Entah, sepertinya Ruri akan meninggalkan sekian banyak malam minggu di Malang dengan Bas, panggilan sayangnya. Sebelum keberangkatannya, ia meramu banyak sekali nasihat pada pacarnya yang bekerja di sebuah perusahaan ternama itu. Pesannya sederhana, intinya sama-sama komitmen untuk saling setia. Sambil sesenggukan, ia hampir menghabiskan satu gulung tisu di warung Bebek Purnama malam itu. Heu.

Jarak Kota Malang-Taiwan terlampau 3676 kilometer. Ini sama halnya menghabiskan waktu kira-kira 40 kali pulang pergi Surabaya-Malang. Benar memang, kata banyak orang seberapun jauh jarak, selama tidak terpisah dunia berarti itu masih dekat.

Long Distance Relationship (LDR) adalah suatu duka yang mendalam bagi Ruri. “Galau banget pas awal-awalnya. Saya masih ingat pertama kali flight ke Taiwan. Saat itu 10 hari nangis terus gak bisa komunikasi. Soalnya pas itu lagi winter holiday dan lagi guonian alias Imlek. Jadi semua toko banyak yang tutup dan gak bisa beli paket perdana. Tiap video call isinya cuma diem terus gitu sampai 3-4 bulanan,” katanya saat ditanyai penulis via percakapan Line.

Ia seperti tak bisa menerima kenyataan, bahwa berpisah untuk sementara waktu sejauh ribuan kilo sungguh suatu yang nyata sekarang ini. Lambat laun Ruri bisa beradaptasi dengan mahasiswa di sana. Lidahnya sudah bertalu ala Chinese. Cengkoknya uda kayak cece-cece saat nawar cemilan di Pasar Besar Malang. Disana ia juga banyak menemui mahasiswa Indonesia yang juga hampir mempunyai cerita yang sama. Senasib, berpisah dengan keluarga juga pacar.

Ada perasaan campur aduk yang membuat Ruri semakin haru tak karuan. Di Taiwan muda-mudi berpacaran ala western. Bermesraan, ciuman, hingga pelukan di depannya adalah hal yang seringkali ditemui Ruri. Suasana itu membuat ia ngilu, berharap Bas ada di sampingnya selalu. Ia hampir tak waras melihat pemandangan itu. Melihat muda-mudi macam itu baginya seperti meratapi kesendirian. Rasa iri selalu muncul berulang kali, apalagi saat malam minggu tiba.

Beruntung Ruri punya banyak teman Indonesia. Untuk menepis waktu senggang, Ia banyak melahap buku-buku bacaan kesukaan. Ia coba membasuh saraf dengan pesan moral dari Erich Formm. Memanjakan mata dengan karya Da Vinci. Ditambah lagi tugas-tugas kuliahnya membuat ia fokus pada tujuan. Berharap lulus, berkarir, dan membangun keluarga kecil di Kota Malang adalah keinginannya.

Dulu, sebelum berangkat ia sempat ingin sekali dilamar oleh Bas. Namun sayang, keinginannya itu tak dapat ijin dari orang tuanya. Ruri disuruh untuk fokus terlebih dahulu. Ia hanya takut tak ada ikatan kecil macam lamaran membuat Bas melirik perempuan lain di Indonesia. Atau sebaliknya yaitu ada perempuan lain yang juga mencintai Bas. Keraguan itu berulang kali ia tepis, mengurangi stalking, selalu berpikiran positif, dan selalu jujur kerapkali ia lakukan.

Erich Fromm pada bukunya, The Art of Loving pernah mengutarakan cinta, yaitu seni hidup itu sendiri dan merupakan pandangan terhadap manusia lebih utuh. Baginya cinta memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya dan mencintai adalah memberikan kebebasan demi pertumbuhan yang dicintai. Dengan demikian cinta bukanlah suatu pengaruh pasif. Cinta adalah Standing in (tetap tegak di dalam) bukan Falling for (jatuh untuk). Fromm juga menjelaskan cinta adalah pilihan bebas yang diberikan secara suka rela atas kemauan sendiri dan rasional. Maka dari itu mencintai dituntut untuk lebih dewasa.

Ruri menyadari betul apa yang dikatakan Fromm ini berpengaruh pada seluruh hidupnya. Ada yang bilang cuma keyakinan yang bisa mempertahankan hubungan jarak jauh macam Ruri. Tak ada analisa lain tentang itu. Saling percaya adalah sebuah bentuk otentik dari pengorbanan bagi pasangan LDR.

Ruri biasa membuang rasa bosannya di danau kecil dekat flat ia tinggal. Tak ada yang membahagiakan selain melihat lompatan kecil ikan-ikan di danau. Kalau malam tiba ia coba naik ke rooftop. Ia pandangi bintang satu-satu, berharap Bas ada disitu.

Foto : globalriskinsights.com

 

Arif Suhandha

Mencintai langit Sore dan musik asyik Banda Neira

About Arif Suhandha

Arif Suhandha
Mencintai langit Sore dan musik asyik Banda Neira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *