Home / Uncategorized / Hal yang Harus Dipahami Jika Menikahi Perempuan Suku Sasak

Hal yang Harus Dipahami Jika Menikahi Perempuan Suku Sasak

Tulisan ini, tiba-tiba saja terlintas setelah aku membaca “Si parasit Lajang memutuskan Pensiun” sebuah sajak yang mengalir bagai air, yang ditulis saudara seperguruan dari Tual (Novi Rahantan).

Mak, aku ingin bercerita satu hal padamu. Karena sepertinya, kita belum pernah berdiskusi tentang budaya Merarik di Suku Sasak.

Seperti yang kau sampaikan dalam tulisanmu beberapa pekan lalu. Jika bagi pejuang feminis, pernikahan di budaya timur, dalam frame mereka adalah patriarki yang terlembagakan.

Tidak demikian di masyarakat suku Sasak. Menurutku, di sini lebih sadis dari itu. Karena seorang perempuan bisa menikah lebih dari dua kali, kadang mereka dicerai paksa, tidak sedikit juga yang mengajukan cerai paksa pada suaminya. Pengalaman ini dimulai dari satu persatu muridku tiba-tiba curhat perihal gangguan belajar yang mereka alami.

“Bu, mengapa tangan saya tiba-tiba bergetar sendiri, dan tiba-tiba saya kehilangan kata-kata, saat ingin menyampaikan sesuatu di tengah forum diskusi. Keringat dingin pun mengalir begitu saja.” Ungkap salah satu murid, yang tiba-tiba mengejarku yang tengah berjalan meninggalkan kelas seusai pelajaran berlangsung.

Setelah ku tanya sekilas, dia mengaku, “ada trauma dalam keluarga, karena Bapak menikah lagi, saya tinggal bersama saudara tiri.”

“Saya sudah 3 tahun cuti kuliah Bu, saya kerja di Malaysia. Saat itu saya tidak punya alasan lagi untuk tinggal di tanah kelahiran, karena semangat kuliah saya hilang, bersamaan dengan kondisi keluarga yang tidak kunjung membaik sejak Bapak memutuskan kawin lagi.” Terang muridku.

Kasus lain yang pernah ku dengar dari salah seorang murid setelah melaksanakan observasi di lapangan tentang perkembangan anak dan remaja. “Bu, disana ada 5 anak yang tinggal dalam 1 rumah, ibunya pergi ke Arab Saudi, bapaknya sudah kawin lagi entah di mana. 5 anak itu pun dari 3 hasil perkawinan beda bapak. Anak Sulung, kepergok bawa teman laki-laki menginap dan diserbu warga.” Beber murid yang lain.

“Kebanyakan anak-anak disini, tinggal dengan niniknya (nenek.red), bapak ibunya cerai, terus pada kawin lagi. Sibuk dengan keluarga baru masing-masing, anak jadi ndak keurus.” Ungkap muridku lainnya.

Budaya Merarik bagi suku Sasak, merupakan proses pernikahan yang wajib ditaati. Karena ini berbicara tentang harga diri. Walaupun hingga tahun 2016 ini, beberapa masyarakat dari kalangan berpendidikan, mulai menggeser makna Merarik, dan beralih pada prosesi lamaran yang sah menurut syari’at Islam.

Dalam budaya Merarik, pernikahan dimulai dari penculikan anak perempuan oleh seorang lelaki. Dilarikan dan disembunyikan sampai 4 hari lamanya. Sang perempuan harus disembunyikan di rumah kerabat si laki-laki, yang harus dirahasiakan dari keluarga perempuan. Hingga 4 hari kemudian, pihak keluarga laki-laki lapor pada Pak Kadus (anggaplah doi pemimpin suku di daerahnya) untuk menyampaikan hal tersebut kepada kepala dusun pihak perempuan. Kepala dusun inilah yang menjadi perantara untuk menyampaikan perihal penculikan kepada keluarga sang perempuan. Hingga kesepakatan pun berlangsung. Final dari prosesi Merarik ini adalah, tawar menawar harga mahar oleh kedua belah pihak keluarga. (Aku pernah mendengar orang pasar menyebutnya, “jual anak”). Keluarga perempuan, menawar dengan harga setinggi-tingginya, sedang pihak laki-laki, menawar dengan harga sebaliknya. Tawar menawar ini berlangsung cukup rumit dan lama, karena biasanya ini juga erat hubungannya dengan beradu gengsi.

Setelah serangkaian ini selesai, akad nikah dan pesta pernikahan akan di gelar di keluarga laki-laki, dan ditutup dengan prosesi nyongkolan. Nyongkolan atau bisa disebut juga arak-arakan, merupakan lambang keberanian sang laki-laki yang berhasil menikahi anak perempuan orang, dan mengantarnya datang pada pihak kelurga. (setelah sekian hari sejak penculikan, tidak bertemu).

Merarik ini, meskipun sudah menjadi adat yang sangat famous di semua kalangan suku sasak. Bukan berarti tidak menyisakan problematika. Biasanya problematika ini dirasakan oleh keluarga dua belah pihak, seringnya keluarga pihak perempuan. Mereka tidak siap dengan penculikan yang seringkali terlalu cepat. Seringnya karena si perempuan dan laki-laki yang terlalu dini (karena masih duduk di bangku SMP). Atau urusan klasik, tentang kemapanan si laki-laki.

Tapi ada rahasia besar dalam perihal Merarik. Bahwa, keputusan tertinggi terselenggaranya pernikahan adalah peng-iyaan dari si anak perempuan. Saat keluar jawaban “Saya mau Merarik” maka ini adalah harga mati. Prosesi pernikahan wajib dilangsungkan, meskipun keluarga di perempuan ngotot tidak memberi restu. Biasanya sudah disediakan alternatif wali hakim, jika wali dari pihak perempuan tetap tidak bersedia. (ini hal paling sadis yang pernah saya tahu dalam sejarah pernikahan).

Ketika segala macam kesepakatan tak kunjung bertemu, hal terburuk dari budaya Merarik adalah perang adat, dengan tujuan mengambil paksa anak perempuannya. Tak pelak korban jiwa akan berjatuhan, dan terjadilah dendam turun temurun.

Mengawali pernikahan dengan suka cita adalah keinginan semua orang, namun tidak demikian yang terjadi di masyarakat suku Sasak (sebagai bentuk konsekuensi dari budaya Merarik). Keberhasilan pernikahan seringkali tidak berlangsung lama, dan berbuah pahit yaitu perceraian. Sebagai akibat dari konflik luka hati yang telah dipupuk sejak awal sebelum prosesi pernikahan. Dan bahwa persoalan ini, akan selalu menghadirkan korban-korban baru perceraian, yakni  anak-anak.

Betapa, puluhan bahkan ratusan anak telah direnggut kebahagiaannya oleh orangtua mereka sendiri. Berlangsung dari generasi ke generasi, hingga hari ini. Menyedihkan bukan?

Bahwa disini, pasca perceraian anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibunya, dan sang ayah seakan bebas terbang mencari sarang baru.

Namun adat tetaplah adat, meskipun beberapa kalangan terpelajar telah mau membuka diri untuk meluruskan adat, tapi tidak bagi masyarakat kebanyakan yang tumbuh tanpa pendidikan dari orang tua mereka yang juga tidak berpendidikan karena korban perceraian turunan.

Bahwa disini, juga terjadi kesalahan, turun temurun, tidak banyak yang berani move on dan meluruskan adat. Justru sebagian besar (masyarakat Suku Sasak tulen) mengutuki beberapa kalangan terpelajar yang ingin meluruskan adat. Menyedihkan bukan?.

Dan bagi kalian anak perempuan Suku Sasak, menikah bukan melulu soal cinta, tapi tentang kemampuan menjaga amanah yang kau minta sendiri dari langit. Termasuk anak-anakmu.

Foto : Ulinulin.com

About Fitri Aulia

4 comments

  1. Bang red, potonya penulis kagak dikasi? Biar pembaca liatnya lebih warna-warni..

  2. wah… menarik…

    jadi ingat Baiq Mandalika dan Lalu Jagat Wira… dua tokoh dalam novelnya Novia Syahidah yang bercerita tentang budaya merarik ini juga… lupa judulnya

    jadi pengen baca ulang novelnya. biar ngobrolnya nyambung ama emak fitri 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *