Home / Uncategorized / Gudang Garam Dapatkan Tuah di Pesarean Gunung Kawi

Gudang Garam Dapatkan Tuah di Pesarean Gunung Kawi

Saya melihat Solikin, penjaga pintu Pesarean Gunung Kawi, menyalakan rokoknya. Terlihat rokoknya dengan batang rokok yang putih dan busa atau filter dengan warna coklat, di dekat busa itu melekat sebuah logo dari perusahaan rokok terkenal di Indonesia. Gudang Garam.

Andai saja pemilik Gudang Garam tidak semedi dan tirakatan di Pesarean Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Bisa jadi Solikin tak merasakan nikmatnya menghisap Gudang Garam, bisa jadi tidak akan muncul iklan rokok itu yang gagah, maskulin, petualang di televisi, bisa jadi juga orang Papua tak bisa merokok Gudang Garam untuk menghangatkan tubuhnya, bisa jadi juga pekerja wanita di Kediri yang menganggur. Namun itu semua tak terjadi, karena pemiliknya semedi dan tirakatan di Pesarean Gunung Kawi puluhan tahun yang lalu, hal itu dipercayai membuat perusahaanya menjadi sukses bertubi-tubi.

Orang di Malang Raya lebih akrab menyapa Gudang Garam dengan panggilan Surya. Bisa dijumpai di semua toko perancangan, serta Indomaret dan Alfamart terdekat. Saya juga pernah sesekali membeli rokok eceran Gudang Garam Surya, dahulu Rp 1.000 per batang, sekarang sepertinya sudah naik sedikit.

Saya kepincut rokok ini dengan logo yang sederhana itu selain itu rasanya memang nikmat bro. Perusahaaan rokok Gudang Garam berhasil menguasai pasar rokok di Indonesia. Berbagai cerita muncul di internet mengenai logo itu. Saya kira logo ini akan menyaingi logo dari Khong Guan yang ngehits, bahkan ada tulisan mengulas si pembuat gambar Khong Guan di vice.com. Saya mengangkat topi bagi penulisnya yang cerdik, sehingga rasa penasaran saya dan pecinta Khong Guan bisa tuntas.

Kembali lagi ke logo Gudang Garam Surya, saya  baru saja berkunjung ke Pesarean Gunung Kawi. Lalu, salah satu penjaga, Solikin mengatakan pengusaha besar sering datang ke pesarean itu, salah satunya pemilik Gudang Garam. Cikal bakal logo  mendapatkan ide di tempat wisata religi ini.

Saya mengamati logo Gudang Garam Surya, lima bangunan yang berdiri secara berhimpitan, itu terdiri dua bangunan dari kiri yang semua pintunya terbuka, dua bangunan di sebelahnya dengan pintu setengah terbuka, serta satu bangunan dengan pintu tertutup. Di belakang bangunan, tepatnya di sisi kanan terlihat dua gunung yang bentuknya sama, yakni segitiga. Lalu di depan lima bangunan terdapat rel kereta api yang sedikit melengkung.

Logo Gudang Garam Surya menjadi penanda utama, yang memuat informasi produk. Logo itu tidak hanya menjadi tanda untuk membedakan dengan produk rokok lainnya, melainkan menurut saya ada nilai seni dan budaya.

Sebagai pencinta rokok Gudang Garam, saya melihat logo Gudang Garam mempunyai makna-makna yang tersirat di dalamnya, serta sebagai brand produk. Saya ingin mewancarai Pak Rachman Halim, generasi kedua pemilik Gudang Garam. Kalau pendirinya sendiri, adalah Tjoa Ing Hwie (Surya Wonowidjojo) sudah almarhum. Logo rokok itu erat dengan subjektivitas pemilik.

Walau belum berhasil wawancara beliau, saya ngobrol  dengan salah satu penjaga pesarean Gunung Kawi, Solikin.

Dia bercerita, logo Gudang Garam sendiri berawal dari mimpi dan semedi serta tirakatan di Pesarean Gunung Kawi. Pendiri Gudang Garam, Pak Surya bekerja di sebuah perusahaan rokok Cap 93 di Jawa Timur. Lalu dia keluar dari perusahaan rokok itu ada tahun 1956. Pak Surya berbekal ilmu dari perusahaan lamanya, dia mendirikan perusahaan rokok sendiri pada 26 Juni 1958 dengan nama Inghwie.

Dia ingin perusahaan rokok barunya maju, sehingga berkunjung ke Pesarean Gunung Kawi. Bukan pesugihan yang dicarinya, namun semedi dan tirakatan agar ide dan eksekusi bisnisnya berjalan lancar. ”Di pesarean Gunung Kawi bukan mencari pesugihan, banyak orang tionghoa datang kemari, termasuk pemilik Gudang Garam untuk tirakatan,” kata Solikin.

Solikin yang juga pegiat seniman Reog ini melanjutkan ceritanya. Pesarean Gunung Kawi terdapat makam Kanjeng Kyai Zakaria dan Raden Mas Imam Soedjono. Kedua orang itu keturunan keraton Jogjakarta. Tokoh itu juga dipercaya oleh orang Tionghoa sebagai guru atau lao tse. Sehingga pesarean Gunung Kawi untuk tirakatan agar tertimpa hoki dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Solikin masih bercerita, pemilik Gudang Garam itu pada suatu malam bermimpi melihat sebuah gudang yang berdiri di seberang perusahaan rokok lamanya, Cap 93. Lalu, seorang karyawannya menyarankan agar gambar gudang itu dijadikan sebuah logo Gudang Garam. ”Pemilik Gudang Garam itu tirakan di sini, lalu semakin percaya diri untuk membuat logo dari mimpi dan saran karyawannya tersebut,” kata Solikin.

Gudang Garam kini semakin maju dengan cakep. Pemiliknya sekarang, Rachman Halim juga mendatangi Pesarean Gunung Kawi dua kali dalam satu tahun. Biasanya juga memberikan hiburan kesenian, berupa wayang kepada masyarakat Gunung Kawi. ”Kesuksesan Gudang Garam, juga kami nikmati, seperti melihat wayang. Mereka berbagi, itu yang didapat setelah tirakatan,” kata dia.

Saya menyalakan sebatang rokok Gudang Garam Surya, dan melihat kembali logo rokok itu. Walau diberi gambar PERINGATAN bahaya merokok, tetapi logo itu seolah-olah berbicara, Gudang Garam Surya itu Pria Punya Selera. Saya melanjutkan berfantasi bisa wawancara pemilik rokoknya, agar mengetahui lebih dalam.

Foto : Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

2 comments

  1. semoga fantasi terkabul, gan

  2. Sip Pak. Kepulan Fantasi yang yahud…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *