Home / Uncategorized / Duh, Generasi Persma yang Tertatih dengan Tradisi Kritis

Duh, Generasi Persma yang Tertatih dengan Tradisi Kritis

Siang itu (13/12) Warung kopi Kalimetro, Kota Malang tampak riuh. Jurnalis anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Malang, mahasiswa dan masyarakat hadir dalam soft launching media online baru, Terakota.id dengan basis konten budaya, sejarah dan kesenian. Saya dan rekan pers mahasiswa lainnya pun turut meramaikan acara. Sambil menunggu acara dimulai, saya memesan secangkir kopi hitam. Tak lama acara pun dimulai. Sambutan dan penjelasan pemimpin redaksi media tersebut jadi pembuka. Disusul orasi budaya oleh Djoko Saryono, dosen Universitas Negeri Malang.

Djoko menyinggung konsep tradisi dan apa yang harus dilakukan untuk menjaganya. Tradisi, menurutnya, selalu identik dengan masa lalu. Padahal masa lalu hanya patokan. Saat ini dan masa depan juga menjadi bagian dari tradisi yang dibangun dari masa lampau. “Transformasi memang diperlukan hanya untuk menyesuaikan hal-hal baru tanpa merubah hal-hal substansial,” jelasnya.

Sejenak kemudian saya teringat kongres Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Jogjakarta satu minggu lalu. Seluruh insan Pers Mahasiswa (Persma) berkumpul dan membahas aturan dasar organisasi. “Pers Mahasiswa Mengawal Isu Lokal” menjadi tema agar Persma menyelami isu lokal di daerah masing-masing.

Saya jadi tidak fokus dengan orasi budaya dan acara launching itu. Ingatan tentang kongres terus bergelayut dalam pikiran. Pembahasan isu lokal dalam kongres memang mengarah pada peran pers dalam isu lokal. Kritik terhadap pembangunan infrastruktur dan permasalahan agraria yang kemudian ‘disepelekan’ menjadi agenda utama.

Pers mahasiswa memang lekat dengan tradisi kritik melalui tulisan-tulisan yang memihak rakyat. Sejurus kemudian, ingatan saya kembali ke acara musyawarah wilayah 3 PPMI bulan Oktober silam. Abdus Somad, Sekretaris Jendral PPMI domisioner, bertutur bagaimana kultur atau tradisi pers mahasiswa yang berpihak pada perspektif kerakyatan. “Dulu kami pernah liputan bareng terkait isu agraria bersama wartawan lokal. Ketika jadi tulisan ya beda. Sudut pandang tulisannya sudah beda. Tulisan rekan Persma saat itu ya memihak warga yang menjadi korban” jelas Somad.

Entah kenapa ingatan saya terus berputar tentang tradisi dan kaitannya dengan persma. Ingatan tentang ucapan Fandy Ahmad, mantan Sekjend PPMI dalam majalah Inovasi pun muncul. “Pers mahasiswa bukan cuma tempat belajar jurnalistik. Tempatnya berjuang”. Saya agak lupa kalimatnya, tapi esensinya seperti itu.  Sebuah pertanyaan lalu muncul dalam benak saya. Budaya kritis atau bisa diklaim tradisi kritik yang dilakukan pers mahasiswa, apakah bisa bertahan ditengah berkembangnya arus informasi yang sangat bebas dan terbuka? Apakah pers mahasiswa dan awak redaksinya masih bisa eksis dengan tulisan kritis? Toh sekarang jurnalisme warga dan liputan berbasis video dokumenter sebagai kritik masyarakat atas ketidakberesan pemerintah mengurusi warganya juga sangat masif.

Lalu ingatan saya menjelajah memori tentang kondisi pers mahasiswa di Kota Malang. Sekejap kemudian saya tak berkedip. Miris. Ada lembaga persma yang anggotanya tinggal ketuanya saja, ada yang anggotanya buru-buru lulus, menyisakan beberapa anggota baru. Walau tak semua lembaga, kondisi kronik sumber daya manusia Persma berdampak pada kultur konten kritik berita yang dihasilkan. Alih-alih membahas konten berita yang didasari paradigma kritis madzab Frankfrut. Itu bedanya nyata dengan pemikiran positivistik, pemahaman atas prosedur kerja jurnalistik yang masih belum dipahami benar. Regenerasi itu putus begitu saja. Padahal para pendahulunya cukup konsisten mengawal reformasi dan kritis terhadap fenomena ketimpangan sosial. Memulai dari nol bagi para anak magang memang tak mustahil, namun hal tersebut memakan waktu dan tak efisien. Berita yang muncul demi eksistensi media Persma tersebut akhirnya berupa tulisan populis dan berita humas. Acara-acara kampus diliput sekadarnya. Bukan demi menemukan fakta lain atau demi kepentingan publik.

Lamunan saya terhenti ketika disalami oleh salah satu tamu. Perhatian saya kembali pada orasi budaya Djoko Saryono. Djoko lalu membahas bahwa hilangnya tradisi bisa terjadi karena perubahan atau tranformasi terhadap tradisi tersebut sampai menyentuh hal-hal substansial. “Ini bisa melenyapkan idealisme yang sudah dibangun,” jelasnya.

Kepala saya tertunduk. Lesu. Memang saya belum sarapan. Tapi juga karena membayangkan jika generasi Persma yang tertatih melanjutkan tradisi kritis. Saya menyadari jika memang media sekarang lebih berkembang daripada dulu. Namun jika perubahan bentuk media juga diikuti dengan perubahan paradigma dan keberpihakan persma. Hmmm,..

Sudah saatnya menengok kembali tradisi kritis dan keberpihakan Persma pada rakyat yang termarjinalkan. Dominasi kekuasaan atas sistem yang berlaku dalam kehidupan masyarakat memang terus beradaptasi. Begitu pula harusnya Persma. Transformasi bermedia perlu dilakukan tanpa meninggalkan hak substansial. Bolehlah media cetak diganti dengan online, atau dijadikan video, namun keberpihakan harus tetap jelas. Memang lebih mudah ngajak kekasih ke alun-alun Kota Batu daripada menjaga tradisi Persma. “Kuncinya merawat, meremajakan dan mengembangkan tradisi,” ujar Djoko menutup orasinya. Saya akhirnya sadar, ternyata saya benar-benar lapar. Aba-aba untuk mengambil konsumsi membuat hasrat manusiawi saya berkata inilah saatnya mengisi perut. Sepiring nasi campur saat sesi ramah tamah membuat saya tak lesu lagi, setidaknya untuk tetap semangat mengunjungi kantor redaksi saya, Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi di jalan gajayana No. 50 itu.

Foto : college.lovetoknow.com

About Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *