Home / Uncategorized / Buku dan Hal Lain yang Dianggap Penting

Buku dan Hal Lain yang Dianggap Penting

“Keanehan orang yang punya banyak buku adalah mereka selalu ingin lebih banyak (buku) lagi.” – Patricia A. McKillip

Buku. Aku tidak akan memaksakan pembaca tulisan ini agar menumpuk buku di ruang tamu rumah, atau bagi anak-anak kos–khususnya mereka yang kuliah–di rak buku yang takkan memuat dua hingga tiga ratusan judul.

Aku hanya akan menyampaikan apa yang sedikit aku ketahui tentang dunia buku–sebenarnya sudah lama, mungkin satu dekade aku berkenalan–yang baru-baru ini terlibat aktif mendakwahkannya.

Sejenak ambil posisi tubuhmu se-enjoy mungkin. Anggap lah aku ini seorang yang lagi duduk bersila di depanmu. Sambil sesekali seruput kopi yang kamu seduh, dan terlihat ‘beken’ dengan mengudut beberapa batang.

Aku akan ceritakan tentang buku yang sama sekali tidak penting bagi masa depanmu. Kamu akan lebih cepat memilih beli pulsa, bakso daging sapi asli atau nasi goreng malam hari ketika tiba-tiba perut terasa lapar, dan mungkin juga aksesoris terkini, dari pada buku, jika tiba-tiba ada orang datang menemuimu sambil menawarkan buku.

Oh ya, menurutku, penawaran semacam ‘pengemis’ buku itu ada dua macam. Pertama, yang memang bertemu denganmu secara fisik. Dengan artian, kamu akan tahu bagaimana dia sedang mencoba merayumu, memperkenalkan isi buku, harga buku, dan terakhir berupaya agar kamu beli buku.

Kalau kamu tidak sama sekali berkeinginan beli buku, banyak alasan yang bisa kamu gunakan untuk menolaknya. Sehalus dan selembut mungkin kamu akan segera cerdas dengan seribu satu alasan. Intinya, kamu tidak minat untuk membeli buku.

Kedua, sales buku sosial media (sosmed). Ada banyak sosmed yang bisa ditempuh, dari akun Facebook, WharsApp, BlackBerry Messenger, Instagram, dan sesaudara lainnya, yang tiba-tiba hadir bak tukang calo di terminal Kalideres. Kalau yang model kedua ini, kamu lebih mudah meninggalkannya jika memang sama sekali tidak ingin membeli atau hanya sekedar basa-basi apresiasi. Cukup hapus dari pesan pemberitahuan, selesai sudah. Sedangkan untuk sekedar menghargai, kamu bisa dengan like, pasang jempol, atau kirim kata ‘mantap’.

Kiranya, hal itulah diantara indikasi subjektif jika kamu tidak terlalu mementingkan buku. Lebih mementingkan pulsa, makanan sekunder, atau atribut kekinian agar penampilanmu tampak lebih up to date.

Tapi akan lain cerita jika kamu termasuk orang yang gila buku. Selain doyan baca buku, juga seringkali menghabiskan uang hanya untuk membeli buku, lalu menumpuknya di ruang kamar. Tak peduli akan dibaca atau tidak, yang penting buku sudah terkoleksi.

Seorang jurnalis kampus di UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, yang belum lama ini aku ikuti akun Facebooknya, pernah membagikan tulisan yang berisikan pengalamannya tentang dunia buku. Sejak tahun 2012, sebelum menjadi mahasiswa, katanya, ia mulai menjamah perbukuan. Dibelinya beberapa novel inspiratif di tanah ia dibesarkan, di Kalimantan Timur.

Di daerahnya itu, kata dia, toko buku hanyalah Gramedia yang sudah barang tentu bukunya mahal. Nah, setelah ia pindah daerah ke Jogjakarta yang menawarkan berbagai macam buku, betapa terperanjatnya dengan tawaran harga buku-buku yang lebih murah dibanding dulunya saat ia beli di daerah kampung halamannya.

Mengetahui betapa beragam dan murahnya buku-buku di Jogjakarta, ia semakin gila untuk mengoleksi lebih banyak lagi. Sampai dia tahu bagaimana kondisi orang-orang buku, yang rela berpuasa, hanya untuk menumpuk buku. Buku, menjadi semacam candu bagi kalangan seperti ini.

Itu cerita salah seseorang yang jauh dari kehidupanku yang tinggal di daerah berhawa hawa dingin, Malang. Aku sendiri juga tak henti-hentinya mengoleksi buku, dan sesekali waktu senggang aku membacanya.

Entah mengapa, aku lebih suka membeli buku dari pada pakaian atau barang-barang antik, dan yang pasti aku tidak akan pernah membeli kosmetik agar terlihat menawan.

Saat kuliah, aku bajet tiap bulannya agar membeli 4 judul buku. Baik itu buku kuliah maupun buku-buku bacaan lain, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang kutempuh. Akan tetapi, jika mendengar kabar bazar buku murah, bisa lebih dari 10 judul buku yang kubeli saat itu juga. Bukan asal buku. Tapi buku yang pada saat tertentu aku ingin mengumpulkannya.

Setelah menikah pun aku masih bersikeras agar tetap bisa membeli buku tiap bulannya. Menabung dikit demi sedikit, 1 buku harus terbeli dengan resiko diomeli istri. Ini mungkin wujud idealisme yang tidak lagi abstrak, yaitu dengan wujud atau terbelinya buku. Sedangkan kewajiban untuk menafkahi istri adalah kewajiban lain yang lebih penting ketimbang buku itu sendiri.

Kini, kegilaanku terhadap buku sudah cukup reda. Jika sewaktu-waktu aku ingin buku, tinggal ambil saja buku baru yang aku jual sendiri di rumah. Yang pasti jangan sampai tahu kalau itu buku baru. Wallahul hadi.

Foto : www.magic4walls.com

Roihan Rikza

Dua bulan terakhir memulai buka toko buku di rumah yang berada di jalan Sumedang no. 319, Cepokomulyo, Kepanjen, Malang.

About Roihan Rikza

Roihan Rikza
Dua bulan terakhir memulai buka toko buku di rumah yang berada di jalan Sumedang no. 319, Cepokomulyo, Kepanjen, Malang.

2 comments

  1. Aku baru belajar baca, kak. Boleh pinjam buku gak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *