Home / Uncategorized / Betapa Tidak Mudah Menjadi Perempuan

Betapa Tidak Mudah Menjadi Perempuan

Belakangan sedang ramai perbincangan tentang Donald Trump yang terpilih sebagai presiden teranyar Amerika Serikat. Oh tidak, saya tidak akan berbicara tentang Donald Trump ataupun politiknya.

Perhatian saya terpusat pada istri Trump, Mbak Melanie Trump, yang tentu juga menjadi sorotan publik dan media. Ia menjadi kontroversial sebab profesi di masa lalunya. Ia sekarang bekas model dunia yang begini begitu, ah entah saya tak tahu betul, itu hanya sedikit informasi yang saya dapat.

Yang menarik perhatian saya, justru komentar-komentar netizen terhadapnya. Beberapa netizen memberi dukungan dan komentar positif, tapi tak sedikit pula yang memberi komentar negatif, komentar yang secara tidak langsung menghina, mempermalukan dan merendahkan si Mbak Melanie Trump sebagai perempuan, tindakan serupa ini biasa disebut juga dengan istilah slut shaming.

Dari sekian komentar negatif yang membuat saya terheran-heran, ada yang membuat dahi saya tidak henti-hentinya berkerut, heran, geli, juga ah entahlah. Bagaimana tidak, komentar itu kira-kira begini, “ih dia mah modal cantik doang, liatin dandanannya sama pakaiannya wow banget kan, biasanya yang kayak gitu tuh otaknya gak ada,”

Sejujurnya saya tak tahu harus bereaksi seperti apa ketika ada komentar seperti ini, dan yang membuat saya tidak habis pikir lagi komentar semacam ini dilontarkan oleh perempuan! Komentar itu bukan pertama kalinya saya temui. Beberapa kali saya mendengar komentar serupa, entah secara langsung atau di media sosial. Ketika ada perempuan berpenampilan ‘menarik’, memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuh, cukup mengundang perhatian, dan pandai bersolek. Lalu komentar-komentar seronoh itu acapkali muncul, dan seringkali dikaitkan dengan kapasitas otak.

Saya benar-benar tidak mengerti apa kaitan kemolekan, lalu pilihannya atas berpakaian, serta kepandaiannya bersolek dengan kapasitas otak seseorang. Logika yang sama sekali tidak bisa saya cerna dengan baik. Penilaian terburu-buru yang bagi saya amat tidak adil sejak dalam pikiran, terlebih ketika yang melontarkan komentar juga seorang perempuan, miris betul ya.

Sementara itu, di sisi yang berlainan, iklan-iklan kecantikan begitu berlimpah, bombardir iklan kecantikan dengan segala kemilaunya sama sekali tidak terelakkan, dan dapat dengan mudah kita temui. Lantas ketika ada perempuan pandai bersolek, terlihat cantik, dan cukup mengundang perhatian, beberapa justru mencaci, “ah badannya doang yang oke sama pintar dandan, tapi otaknya kosong, buat apa,” padahal saya teramat yakin yang berkomentar belum tentu mengenal perempuan yang dikomentari.

Bukankah merias diri, memakai pakaian -apapun dan bagaimanapun itu bentuk ekspresi diri seseorang? Sekali lagi itu menjadi haknya untuk mengekspresikan diri sesuai keinginannya. Sesungguhnya tak perlu lah ada campur tangan orang lain.

Dulu sekali, saya pernah mencoba memposisikan diri sebagai ‘mereka’ yang berkomentar negatif. Itu hanya untuk sekedar mengerti, dan mencari sebab, sebelum saya benar-benar men-judge bahwa itu memang logika bengkok nan aneh. Barangkali saya juga salah mengerti logika dengan logika mereka.

Saya berusaha mencari tahu mengapa komentar itu bisa muncul. Mengapa justru hinaan yang dilontarkan, tapi yang saya temukan adalah ketololan diri, kebodohan atas apa yang coba saya lakukan, bahwa berpikir untuk mencoba mengerti mereka yang melakukan tindakan slut shaming adalah tindakan bodoh.

Bagaimanapun juga, tindakan slut shaming seperti itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, sebab melecehkan dan merendahkan perempuan, dan sangat disayangkan jika yang melakukannya juga perempuan. Ah, betapa tidak mudah menjadi perempuan.

Foto : Librado Romero/The New York Times

 

Anisatun Solihah

Seorang pengendali udara terakhir, aktivis Lazada, Zalora, dan Beribenka.

About Anisatun Solihah

Anisatun Solihah
Seorang pengendali udara terakhir, aktivis Lazada, Zalora, dan Beribenka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *