Home / Uncategorized / Belajar Apa Hari Ini?

Belajar Apa Hari Ini?

Jabatan pemimpin redaksi (pemred) baru melekat pada seorang laki-laki itu. Suatu sore yang dingin di Kota Malang, ada hal yang harus dia lakukan. Hal yang cukup sederhana, yakni memastikan ada satu tulisan yang termuat di padepokanairmata.com. Satu tulisan satu hari terasa cukup berat, apalagi ini media alternatif anyaran. Tak hanya itu, kontributornya hanya diberkati tuhan, tidak mendapatkan bayaran selayaknya upah minimum kota. Tapi kali ini, pria itu memandang sebagai bekerja sebagai pengabdian. Dia menyakini padepokanairmata.com sebagai media yang mengupas realita sosial dengan gaya yang ringan dan jauh dari media arus utama.

Awal mula muncul situs web ini karena Asrur Rodzi, salah satu teman dari Pemred  resah dengan ketimpangan-ketimpangan sosial. Tetapi belum sampai menyentuh ke ketimpangan di masyarakat, ada teman lainnya yang menitikkan air mata karena terkenang mantannya. Sehingga tidak bisa berpaling dan menjalin hubungan pacaran yang baru. Dari keresahan-keresahan itu, seperti Asrur Rodzi, dan kawannya bertekad membentuk sebuah padepokan.

Asrur lalu bercerita sering berkumpul beberapa laki-laki. Mereka saling curhat tentang kepedihan masing-masing. Dari situlah, kelompok laki-laki itu sering berdiskusi dan menamakan dirinya Padepokan Air Mata.

Asrur Rodzi menyeletuk untuk membuat sebuah Padepokan Air Mata dengan slogan Menampung Tangis Menyangsikan Tawa. Slogannya itu membuat sang pemred tertawa sebentar. Padepokan ini menawarkan untuk menampung air mata, lalu meragukan tawa. Jangan-jangan di dalam tawa masih ada air mata yang dipendam.

Perbincangan terus berlanjut di grup WhatsApp. Teman dari pemred, yang berada di Jakarta, Imam Tarecha langsung menyambut. ”Rasanya cocok untuk membuat media alternatif, dan sampeyan (mengarah ke pria itu) jadi pemrednya,” tulis Imam.

Kaji sapaan akrab dari Imam Tarecha langsung membeli hosting agar bisa mempunyai website dengan embel-embel dot com. Dia mengatakan masalah uang gampang, nanti saja.

Pemred anyaran itu mulai belajar setiap harinya, dengan membaca dan menyunting tulisan. Dia juga belajar apa yang dia makan setiap harinya. Pemred menyakini harus mengetahui makanan dan minuman itu berasal dari mana. Misalnya beras yang dimakan berasal dari jerih payah dari petani, begitu juga lauknya. Saat minum kopi juga mengetahui seluk beluk kopi berasal. Dia juga menyakini perutnya bukan tempat pembuangan makanan yang asal lalu saja. Dia berpendapat, penulis juga begitu dengan belajar apa saja yang dia tulis. Sehingga tidak menghasilkan tulisan yang lalu begitu saja.

Kemudian, pria dengan jabatan Pemred padepokanairmata.com selalu mengingat-ingat di setiap harinya dengan pertanyaan. Belajar apa hari ini?

Foto : kompas.com

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *