Home / Uncategorized / Apakah Kisanak Itu Follower yang Fanatik?

Apakah Kisanak Itu Follower yang Fanatik?

Alangkah seksinya kalau kisanak-kisanak pandai dan bijak menggunakan media sosial. Bisa jadi demo besar (4/11) lalu yang sempat berlangsung damai kemudian berujung rusuh tak akan terjadi. Informasi serta status-status yang provokatif tidak akan muncul di lini masa.

Faktanya sekarang, demo sudah terjadi dan menimbulkan rencana pemeriksaan kepada Ahok secara live di layar kaca.

Di sisi lain, ada perusahaan buzzer yang bermain di media sosial. Buzzer di negeri ini mulai ramai sekitar tiga tahun yang lalu. Buzzer sendiri muncul di Twitter, lalu berkembang ke medsos lainnya. Buzzer juga sering disebut orang bayaran yang memiliki akun twitter dengan jumlah yang banyak. Buzzer dipesan oleh pengiklan, lalu menyebarkan iklan itu kepada pengikutnya.

Nah, kalau iklan seperti kampanye pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) atau pendidikan feminisme disebar oleh Buzzer, alangkah mulianya. Saya membayangkan ilmu itu disebarkan, hasilnya pemerkosaan kepada anak di bawah umur di daerah-daerah bisa hilang. Berita yang banyak beredar, pelaku pemerkosaan karena terpancing dengan busana yang cekak dan video porno. Tetapi semua itu berubah karena buzzer berhasil menyebarkan berita feminisme dan lainnya. Kepala kisanak-kisanak tidak akan ngeres kalau melihat perempuan dengan busana seksi, karena menggunaakan akal sehat. Akan tetapi yang berkembang sekarang, banyak kepentingan jahat yang menunggani buzzer.

Wajar saja, perusahaan buzzer terus beranak pinak,  melihat potensi pengguna sosial media yang terus meningkat, Facebook, Twitter dan WhatsApp. Mereka bekerja secara terorganisir dan militan. Bahkan saling menyerang antar buzzer.

Perusahaan buzzer membentuk divisi yang bekerja secara profesional dan cekatan. Mulai dari divisi hoax, divisi bully hingga divisi perayu. Setiap divisi pastinya mempunyai target dalam bekerja, apabila gagal menjalankan akan tumbang dan diganti yang lain.

Kisanak perlu mengetahui, divisi hoax memanfaatkan berita dari media arus utama. Mereka paham betul ilmu editing, mulai dari  Photoshop untuk mengedit foto hingga judul berita sedemikian rupa atas nama bisnis. Divisi hoax juga lihai memelintir video, seperti hanya sebagian wawancara yang ditampilkan. Sungguh kurang ajar sekali, karya jurnalistik dari jurnalis nasional atau lokal yang bayarannya tidak seberapa menjadi sasaran empuk divisi ini.

Tugas yang berbeda dan lebih ngeri dilakukan divisi bully. Mereka bertugas menjelek-jelekkan target dari buzzer. Ini menjadi senjata ampuh untuk mengelabuhi kisanak-kisanak yang lemah dalam menerima infomasi. Apalagi kisanak suka mem-bully teman dengan isu SARA  (Suku, Ras, Agama dan Antar golongan), pasti dengan mudah terjerumus oleh buzzer.

Masih mengenai perusahaan buzzer, yakni divisi perayu, saya sebut seperti pasukan share dan like. Dia memanfaatkan produk dari divisi hoax untuk merayu follower agar terpengaruh dengan buzzer. Tugasnya seperti marketing yang lihai menggunakan kata-kata agar follower menyebarkan berita palsu bin bohong, serta menggiring untuk menyukai.

Kisanak yang fanatik dan baik hati. Fanatisme merasuki jiwa kisanak mulai dari agama, organisasi, politik, tim sepak bola hingga perusahaan. Itu yang menjadikan akal sehat agak tidak difungsikan secara baik dan benar. Atas nama fanatisme, semua cara menjadi halal. KH Ahmad Dahlan yang tampil dalam film Sang Pencerah pernah berpesan. Fanatisme itu dekat dengan kebodohan.

Duh, saya mulai meracau tidak jelas karena belum minum kopi Robusta Dampit Sridonoretno.

Secara jujur, saya hanya menggunakan tiga media sosial, Facebook yang sudah saya pakai sejak tahun 2009, Twitter sejak tahun 2010 dan WhatsApp sejak tiga tahun yang lalu. Seminggu ini heboh dengan follower yang fanatik. Lalu muncul pertanyaan, apakah saya juga follower yang fanatik?

Foto : Pinterest.com

Aris Syaiful Anwar

Saya penulis baper

About Aris Syaiful Anwar

Aris Syaiful Anwar
Saya penulis baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *